Senin, 05 November 2012

Jalanku?

Jalanku ?


Selalu saja ada alasan untuk tidak berjalan di jalan yang benar
Selalu saja ada kesempatan untuk beristirahat berlebihan dengan meninggalkan kewajiban
Selalu saja terjebak dalam lubang yang sama

Berkali-kali aku berdoa, meminta pertolongan Tuhan
Berkali-kali pula aku melakukan hal yang sama
Berkali-kali pula aku menangis menyesali apa yang telah terjadi

Pekerjaan mulai bertambah banyak
Tanggung jawab kian membesar
Aku makin lama makin menjauh dari jalan lurus itu

Kadang aku berpikir untuk membiarkan saja
Kadang aku berpikir bahwa aku harus melakukan yang lebih baik
Selalu aku berpikir kepada-Mu tapi jarang kulaksananakan tugas-Mu

Kutakut ini berkelanjutan
Terjun dalam lembah kekelaman
Jikalau ada tangan-Mu yang menopangku selalu
Mengangkatku dari jurang terdalam
Menjamahku dan memulihkanku
Aku bisa bangkit, berubah,dan kembali bekerja

Rencana Tuhanlah yang termegah
Aku hanya pengikut-Nya
Aku mau mengikuti-Nya
Tapi, manakah jalan yang benar???




Minggu, 08 Juli 2012

Inspirasi



                Mungkin memang ini hanya suatu kebetulan, atau memang sudah ditakdirkan. Saya, Jessica, percaya dengan apa yang dinamakan takdir. Yah walaupun memang tidak ada yang pasti di dunia ini. Tanpa memilih-milih dalam waktu yang lama, saya mengambil sebuah novel di toko buku terdekat. Judulnya Heaven karya Agnes Jessica. He he... Bukan berarti saya memilihnya karena nama kami say ya...
                Pada awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk membacanya karena saya juga sudah membeli beberapa film untuk ditonton. Kemudian saya berpikir bahwa saya sudah membelinya, kenapa tidak dibaca saja. Saya tahu bahwa novel-novel karya Agnes Jessica itu bagus dan bermakna. Maka dari itu saya pun membacanya...
                Saya mulai masuk dalam dunia di novel tersebut dari setiap lembar halaman yang saya baca. Saya menjadi mempunyai pengetahuan lebih akan suatu hal. Novel Agnes Jessica memang terkenal di kalangan anak remaja dan anak muda. Tema novelnya pun beragam, kebetulan saya membaca yang berhubungan dengan agama dan itu menarik perhatian saya. Walaupun hanya sebuah buku yang berisi karangan seseorang, saya merasa ada hal yang menggerakkan hati saya, ketika saya membaca novel tersebut.
                Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang hidup berkekurangan dan dipaksa oleh ibunya untuk menikah karena masalah ekonomi keluarga. Cerita ini cukup umum di kalangan masyarakat, namun yang menarik adalah gadis ini tertabrak TransJakarta sehingga meninggal. Tapi sayangnya ini bukan waktunya untuk meninggal, maka dari itu gadis ini hidup kembali. Di sini diceritakan suatu tempat yang di bayangan saya merupakan surga. Saya tidak tahu surga seperti apa, ada siapa saja, mungkin malaikat ataupun makhluk lainnya. Pembawaan novel ini sangat menarik, dan layak dijadikan rekomendasi pembaca.
                Ternyata ada kesalahan di ‘surga’ tersebut, sehingga gadis ini ingat akan apa yang terjadi saat ia ‘mati suri’. Maka, dikejarlah gadis ini oleh ‘malaikat’ agar ingatan akan ‘surga’ tersebut terhapus. Tapi sayangnya ada masalah lain, walaupun sudah dihapus ingatan akan ‘surga’ tersebut, gadis ini masih bisa mengingatnya, karena ia bertemu dengan orang lain yang bisa mengembalikan ingatan tersebut.
                Hebatnya, orang tersebut bisa melihat ‘lingkaran halo’ pada orang-orang yang pernah mati suri seperti gadis ini. Padahal rahasia ‘surga’ tidak dibocorkan kepada umat manusia karena akan mengacaukan keadaan yang ada. Namun, orang tersebut bersikeras untuk melakukan suatu penelitian kepada orang-orang yang pernah mati suri dengan mewawancarainya, seperti dirinya sendiri. Ia berambisi untuk menemukan dunia lain selain dunia ini sendiri.
                Sudah ada 20 orang di dunia yang pernah mati suri yang telah ditemui olehnya. Dan kesaksian dari mereka semua berbeda-beda. Tidak lama orang ini tiba-tiba menghilang dan gadis ini berusaha mencari orang ini dengan mengelilingi dunia menemukan orang-orang yang pernah mati suri tersebut. Dari yang sudah diwawancari mereka semua menuju pada satu keyakinan bahwa mereka menunggu datangnya ‘jalan kebenaran’. Sayangnya setelah diwawancari oleh gadis ini, mereka semua satu per satu meninggal. Gadis ini mulai bingung dan ketakutan, ada hal dibalik kejadian misterius ini.
                Ada seseorang atau sesuatu yang ikut campur di dalamnya, dan diketahui dia adalah Lucifer, seorang iblis atau biasa di sebut malaikat yang jatuh ‘The Fallen Angels’. Iblis ini membujuk orang yang mempunyai ambisi untuk mengungkapkan rahasia dunia lain itu untuk menjadi kaki tangannya dengan membunuh orang-orang yang pernah mati suri tersebut dengan memberi imbalan akan diberikan perpanjangan hidup bagi setiap kepala yang meninggal. Walaupun saya tidak terlalu mengerti tapi saya bisa membayangkannya, tapi Tuhan selalu berkuasa. Dan Ia dapat mengalahkan iblis tersebut melalui gadis ini.
                Yang mau saya tekankan sebenarnya adalah saya mendapat sesuatu yang menginspirasi hati saya. Semua agama di dunia ini sebenarnya adalah sama, semuanya menuju pada Tuhan yang sama mungkin hanya berbeda caranya saja. Baik itu yang tertulis dalam alkitab, al quran, atau kitab-kitab lain. Mereka semua memberikan kita semua petunjuk mengenai ‘jalan kebenaran’ yang sesungguhnya, yaitu percaya pada Tuhan.
                Saya juga membayangkan apa yang ada di dalam novel tersebut, dalam agama Kristen asal kita percaya pada Tuhan Yesus dan mengimani-Nya, maka kita akan memperoleh tempat yang sudah disediakan Tuhan sendiri untuk kita. Tempat yang nyaman, penuh dengan makanan, taman yang indah, dan di sana kita bisa berinteraksi langsung dengan Yesus. Saya membayangkan tempat tersebut putih semuanya, sangat bersih, sangat mewah, sangat teratur dan indah.
                Dan saya juga setuju apa yang ada di novel Heaven ini, bahwa walaupun di bumi ini hanya sebentar saja, kita, umat manusia yang percaya pada Yesus Kristus mempunyai misi tersendiri mengapa ada di dunia ini, yaitu menyebarkan injil Yesus Kristus kepada seluruh dunia. Bahwa karena kasih Allah yang begitu besar sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita untuk turun ke bumi menyelamatkan umat manusia dengan rela mati di kayu salib menanggung seluruh dosa kita agar kita tidak binasa, melainkan hidup yang kekal. Di dalam menyebarkan kerajaan Allah, kita akan semakin dan semakin dekat dengan Tuhan Yesus, kita bisa berkomunikasi dengan-Nya, melakukan apa yang telah dilakukan-Nya terdahulu seperti menyembuhkan orang yang sakit, dsb.
                “Wah......”, kata saya terkagum-kagum. Kita hidup di dunia bukanlah tanpa rencana, tapi Tuhan sudah menyiapkan seluruh rencana-Nya dari awal hingga akhir. Baiklah kita terus meningkatkan kualitas diri kita sehingga kita bisa lebih dekat dan mengenal lebih tentang Allah.
I love You, God...
Jessica
24/06/2012

Rabu, 30 Mei 2012

Thanks God

Hari ini adalah hari yang menegangkan menurut saya. SOOCA.. Huft.. Orang lain mungkin tidak mengerti keadaannya seperti apa, dan memang sebelumnya saya tidak membayangkan ada ujian seperti ini di dunia perkuliahan saya. Nyatanya, SOOCA ini harus saya lalui seumur hidup saya. Walaupun dalam konteks yang berbeda. Saat ini saya sedang menjalani pematangan keahlian yang akan dipakai nantinya, yang berguna bagi banyak orang. 

Tapi walaupun begitu saya tetap merasa 1 jam ujian tersebut terasa mencekam, mematikan, dan menegangkan. Urat nadi saya sudah keluar, saraf di otak saya sudah menegang untuk belajar terus-menerus tentang hal ini. Saya bela-bela tidak pulang ke rumah demi SOOCA, padahal saya kangen setengah mati sama rumah saya. Rumah adalah tempat pelarian diri saya di kehidupan saya sekarang. Karena di mana ruang lingkup pergaulan saya hanya di kampus dan di asrama. Benar-benar an-sos... Jadi adanya di rumah, saya bukan belajar tapi malah bermain, nonton dan lain-lain. 

Salah memang cara pikiran dan pandangan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi jika memang saya hanya pulang min 1 bulan sekali. HUHUHU
Dan akhirnya saya mati-matian berjuang untuk ujian yang bernama SOOCA ini. Saya rela tidur pagi hanya untuk membuat draft, saya rela tidak pulang ke rumah demi draft, saya rela tinggal di kamar sendirian, ansos, ditinggal teman sekamar yang selalu pulang ke Bandung demi draft, dan saya rela walaupun ada rasa mengganjal di hati saya setiap kali teman sekamar saya keluar untuk belajar, atau ke kamar teman lain jadi 'parasit' untuk belajar, saya tetap berjuang demi draft. 

Apa yang sudah saya kerjakan dari awal semester sampai sekarang hanya ditentukan 1 jam dari hari ini. Dan ini merupakan sesuatu buat saya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan ketenangan bagi saya, memberikan ingatan kepada saya agar bisa mengerjakannya, memberikan kemampuan untuk berbicara dan juga kasus apa yang saya dapat itu benar-benar emang Tuhan aja yang menentukan. Bahwa saya haru membahas kasus ini, walaupun itu sesulit apapun, walaupun hasilnya itu tidak memuaskan. 

Pada malam kemarin saya sudah hectic karena ada beberapa kasus yang saya belum pegang, dan sisanya saya hanya membacanya saja. Saya sudah tidak tau harus bagaimana lagi tapi saya berdoa, saya berserah kepada Tuhan apapun yang terjadi. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan sudah mengerjakan dengan seluruh kemampuan saya, walaupun saya sering mengeluh kepada Tuhan, tapi saya serahkan semuanya kepada Tuhan. 

Dan baru SOOCA pertama kali ini saya tidur hanya 3 jam kurang, pada pagi hari yang sangat dingin dengan badan saya yang pegal-pegal dan dengan kekhawatiran akan kasus apa yang akan didapat di SOOCA nanti, saya bergerak untuk mandi. Dan memang air dingin tersebut membangunkan saya yang masih setengah tidur. Dinginnya begitu terasa sampai membuat saya menggigil. Tapi saya hanya bergegas saja agar tidak terlambat.

Sesampainya di ruang isolasi setelah mengantri cukup panjang untuk menandatangani absen, saya merasa harus mulai membaca draft saya dan mengingat lagi. Tapi nyatanya setelah membuka tas saya merasa malas untuk membacanya kembali. Akhirnya saya hanya berdiskusi dengan teman-teman saya akan kasus yang belum bisa. Saya ingin membahas kasus 8. "El, kasus 8 dong, kasus 8..." kata saya kepada teman saya. Tapi memang teman saya juga panik, dia belum terlalu menyiapkan apa-apa, jadi saya memaklumi. Lalu saya bertanya kepada yang lain "Za, boleh kasus 8 ga?". Tapi dia berkata "Bentar ya Je, ada yang belum bisa juga nih." Oke saya bilang dalam hati saya. Saya mengerti keadaan teman-teman saya. Karena saya pun juga begitu. Akhirnya dengan kemalasan yang saya miliki ditambah badan yang kurang enak, saya mengambil draft saya di tas dan mencobanya untuk membaca. Tapi sayangnya saat saya mulai membaca, nama saya dipanggil. Tiiddaakk dalam hati saya. Ya sudahlah saya pasrah saja. Saya tidak membaca lagi, saya hanya mengandalkan Tuhan. 

Di ruang isolasi kedua, saya sudah mulai brain stroming kasus-kasus yang ada. Lalu saya jatuh pada kasus 8. Apa ya diagnosisnya, pikir saya. Tapi saya lewatkan begitu saja dan saya masuk ke ruangan mematikan dengan mengambil nomor kasus. Dengan malas saya keluar ruangan dan nyatanya saya kedua terakhir, berarti saya bisa memilih satu di antara dua. Oke,, ya, meja no 16. Saya mulai melihat ke sekitar mana ya meja no 16? Ya, ada di pojok sana. Dengan bergegas saya ke sana, dan melihat secarik kertas berisi kasus saya. Seeeeett.... Dengan membaca cepat, saya menyadari ini adalah kasus 8. ARrrrggghhh...
Tenang Je, tenang, kamu pasti bisa.. Saya mulai mengerjakannya dengan agak berantakan. Hehe, ya sudahlah. Lalu, teettt, waktu sudah habis, saya harus masuk ke ruangan dan mempresentasikan kasus saya di depan 2 dokter yang belum saya tau siapa. 

Ya, ruangan 16 di sini... Sett,, saya melihat dokter-dokter yang baik.. Aaah.. Langsung saja saya masuk dengan tersenyum lebar. Hehe.. 
"Pagi Dok." sapa saya dengan semangat. 
"Bahagia sekali." kata dokter Leo,, 
"Iya, memang harus dengan tersenyum ya.. " sambungnya. 
"Kamu pernah ketemu saya kan?" tanyanya.
"Udah kok dokter Leo, saya juga sudah pernah dengan dokter Titing juga."
"Oh, jadi kamu sudah tahu kan apa yang sudah saya berikan." 
"Iya, Dok (dalam hati yang mana ya????) 
"Jadi hari ini ujian bukan?" 
"Bukanlah, Dok.. " jawab saya sambil tertawa terpendam..
Langsung saya memasang flipchart dan mempresentasikan kasus yang saya punya.
"Anggap saja kami tidak tau apa-apa." kata dokter Leo lagi.
"Iya, Dok"
.................................................
Dengan sedikit tegang dan agak tersendat-sendat saya mempresentasikannya. Lalu ada di saat di mana saya merasa kebingungan. Tapi saya tetap menjalaninya.
"Yak sekian.." kata saya.
"Dan terima kasih." kata dokter Leo.
Hahaahaha saya tertawa.
"Ada yang mau ditambahin, Dok?"
"Itu kenapa bisa begini ya? Itu kenapa bisa begitu ya?"
Saya hanya bisa menjawab sebisa saya, dan ternyata saya missed sesuatu yang penting yang  fatal dengan nilai saya. Tapi ya sudahlah itu sudah terjadi.
TEEEEEEEEEETTTTTTTT!!!!!!
Akhirnya saya keluar ruangan menuju hasil yang saya dapat. Padahal saya sudah merasa, arrgghh, ada yang kurang, ada yang salah, tadi saya enggak bisa jawab. Aduh bagaimana dong... Tidaakk... 
Ya udah deh Tuhan, apapun yang sudah saya kerjakan saya serahkan kepadaMu.
Akhirnya saya masuk lagi dan duduk.
"Kamu merasa gimana?"
"Banyak yang kurang, Dok. Saya enggak bisa jawab tadi yang bagian ini ma itu."
"Iya, tadi kamu tidak menyebutkan bagian ini, dan itu cukup mengurangi nilai kamu, tapi enggak apa-apa. Kamu lulus. Dapat A." kata dokter Leo.
"Makasih, Dok."
"Padahal kami maunya kasih kamu 100 tapi bagaimana ya?" kata dokter Leo.
Lalu dengan pdnya saya berkata, "Kalau mau ditambahin juga enggak apa-apa kok, Dok" sambil tersenyum.
Hahha.. "Tidak bisa sayangnya.."
"Heheh,, Makasih lagi dokter... "

Akhirnya saya melewati 1 jam mengerikan itu dengan penuh peluh, dan saya keluar dengan penuh sukacita. Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang indah dan mulia ini...
I Love You, God.......

Sabtu, 26 Mei 2012

Masa Paling Rentan

Sudah belakangan ini, saya mencoba untuk mengendalikan emosi saya. Saya mencoba untuk lebih dan lebih bisa mengontrolnya. Tapi nyatanya mungkin belum bisa. Karena tidak jarang teman-teman terdekat saya, bahkan sahabat saya sendiri pun merasakannya. Saya bingung, karena semua menganggap saya gampang marah. Ketika saya diam saja, saya dibilang marah. Mau bagaimana lagi jika saya memang mempunyai wajah normal yang sangattt jutteeekkk. 

Oke.. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya mencoba untuk minta maaf kepada semuanya, apa yang telah saya lakukan, atau bagaimana saya bersikap yang tidak mengenakan bagi yang lainnya. Maafkan saya semuanya. Saya akan berusaha memperbaiki air muka saya. Semoga yang lainnya tidak menjadi salah paham. Namun, nyatanya itu tidak mudah sama sekali. Apa yang sudah tertanam dalam diri saya, tidak bisa berubah sampai saya harus mencakulnya begitu dalam sehingga terambil akar tersebut. 

Saya pernah mempunyai pikiran, bagaimana kalau saya mencoba menarik diri dari semuanya ini. Bukan dalam arti menghilang, tapi mengurangi apa yang sudah ada. Saya akan gabut dalam kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, lalu saya akan menghindari keramaian yang ada. Selalu berdiam diri dengan pikiran sendiri. Berbicara seperlunya dan seadanya. Menutup akses diri ke dunia luar dan terkungkung dalam dunia sendiri yang kian lama kian berat hawa yang melingkupinya. Lalu tiba saatnya saya tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut, saya meledak bagaikan bom yang sudah lama tidak diaktifkan. Saya menjadi tidak peduli dengan diri sendiri dan sekitar saya. Saya menangis meraung-raung tanpa sebab yang jelas. Dan akhirnya saya tidak peduli dengan ke depannya.

Saya benar-benar mempunyai pikiran seperti itu. Tanpa ada dorongan dari orang lain. Tapi saya tau itu salah besar. Saya salah jika saya menempatkan diri seperti itu. Saya akan sangat menyesal nantinya seperti sekarang yang saya alami. Saya tidak bisa mengekspresikan diri saya seluas-luasnya, berteman sebanyak-banyaknya, terkurung dalam satu sarang yang benar-benar aman. Saya tidak mau ambil inisiatif, atau mungkin resiko untuk mencoba keluar, berkelana, mencari pengalaman baru. Saya menyesal akan hal itu. Waktu pun tidak memihak kepada saya, dan memang waktu menjadi panutan saya untuk hidup. 

Sekarang, di tempat yang baru, di waktu yang masih ada, saya akan mencoba melakukan hal tersebut. Melakukan kegiatan yang ingin saya lakukan. Terbang bebas tanpa ada rasa takut demi mencapai langit tertinggi... :D

Sabtu, 14 April 2012

Suka banget...

Sejak pertama kali bertemu, saya merasa sesuatu yang baru. Yang sangat berbeda dari diri saya ini. Dia rajin, lucu, jayus mungkin bisa dibilang juga, sopan, baik, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Mungkin memang sifat kami yang berlawanan memacu pemikiran saya yang berbeda dari biasanya. Tapi itu sangat mempengaruhi sifat saya ini, yang pemalu, pendiam, anti-sosial, introvert, dan ga PD. 

Pertama-tama saya jadi lebih memerhatikan dia, bagaimana tingkah lakunya, bagaimana sikapnya terhadap orang lain, bagaimana dia berkomunikasi dengan orang lain yang bisa dibilang mudah untuk dirinya, jika dibandingkan dengan saya. Saya memang cupu! Tidak bisa memulai komunikasi dengan orang lain duluan. Bagaimana ke depannya jika saya begini terus. Tentu saja saya akan terhambat dalam melakukan pekerjaan. Huh..

Makin lama waktu berlalu, saya sudah tahu bagaimana dia melakukannya, bagaimana cara-cara  mencari topik pembicaraan yang tidak penting tapi bisa menghangatkan suasana dalam perbincangan. Tapi, tidak semudah itu mencari topik dan mengambil inisiatif. Dibutuhkan keberanian dan pikiran. Yang pastinya saya tidak bisa langsung begitu saja bisa. Diperlukan waktu untuk belajar dan mempraktekkannya.

Hal lain yang saya suka dari dirinya adalah pandangannya terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Dia tidak terlalu mementingkan/memusingkan pendapat orang lain terhadapnya, tidak seperti saya yang sangat mengkhawatirkannya. Dia juga polos terhadap sesuatu hal yang mengejutkan saya. Dan ternyata saya dibuat kagum olehnya.

Tapi ada satu hal yang saya dibuat kagum olehnya berkali-kali, yaitu kedekatannya kepada Tuhan, kesetiaannya pada Tuhan, cintanya kepada Tuhan, kasihnya kepada Tuhan, dan segalanya untuk Tuhan sudah saya rasakan. Dia sudah menjadi terang bagi sekitarnya, yang mungkin tidak semua. Tapi jelas-jelas saya merasakannya. 

Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang paling indah di dunia ini, Engkau telah mengaruniakan dia untuk bertemu dengan saya, dan karena itulah saya menjadi lebih dekat dan ingin mengenal-Mu lebih jauh. Mau merasakan kasih-Mu yang luar biasa dan membaginya terhadap sekitar saya agar bisa merasakannya juga.

Thank you for patience, kindness, holiness, and love that God have given me through you, my roommate. ^ ^

Kamis, 12 April 2012

Stop or Continue

Ada saat di mana kita berada di keadaan mengambang, a.k.a. tidak tahu harus berada di mana. Sehingga kita tidak bisa menentukan keputusan kita ke depannya. Waktu bagaikan sesuatu yang terus berpacu, tapi perasaan itu tetap ada. Mencari hal lain untuk dipikirkan hanya sia-sia saja. Sudah tidak peduli lagi dengan waktu ke depannya dan mau lari dari kenyataan yang ada.

Itulah yang saya rasakan sekarang. Tidak peduli seberapa hebat atau sempurnanya di mata orang lain, saya tetap saya yang merupakan manusia biasa, rapuh, dan tidak mempunyai pendirian yang kuat. Itu mungkin adalah kelemahan saya. 

Sekarang saya memikirkan suatu hal yang egois lebih tepatnya. Saya mengikuti 2 jenis perlombaan olahraga di Olymphiart ini. Tapi saya merasa, atau mungkin memang kenyataannya saya tidak jago dalam kedua hal tersebut. Hal itu disebabkan oleh kemalasan saya yang tidak pernah ikut latihan. Salahkah saya? Jelas-jelas salah!!! Saya hanya mementingkan sesuatu yang merugikan saya sendiri. Dan pada akhirnya saya tidak bisa ikut serta langsung dalam kedua perlombaan itu a.k. jadi pemain cadangan. Padahal saya seharusnya bangga karena sudah ikut dalam tim tersebut dan berpartisipasi di dalamnya untuk memenangkan perlombaan ini, begitulah yang seharusnya dilihat orang lain kan? Tapi nyatanya saya adalah diri saya sendiri bukan orang lain. Yang merasakan itu semua adalah saya! Saya merasa tidak berguna dan saya berpikir apabila saya keluar dari kedua perlombaan itu maka tidak akan berpengaruh pada hasilnya bukan? Toh saya tidak ikut serta di dalamnya. Saya memikirkan sesuatu yang teramat parah. Saya berpikir bagaimana saya menarik diri saya dari semua perlombaan yang ada, dari semua kegiatan yang ada sama seperti seseorang yang harusnya menjadi panutan bagi saya.

Saya berencana keluar dari semua kegiatan yang saya punya, saya muak mungkin bisa di bilang begitu. Tapi kenapa? Saya merasa tidak bisa menempatkan diri saya di antara anggota-anggota komunitas saya. Atau memang hanya saya saja yang merasa seperti itu dan menjadikan diri saya sendiri seperti itu. Itu adalah hal yang salah, saya tahu benar. Tapi saya memikirkan hal itu!!!

Saya berpikir, bahwa kegiatan itu membuang waktu saya terutama untuk belajar. Mengacaukan konsentrasi saya pada satu hal yang saya pegang. Dan saya tidak memedulikan akibat yang lainnya lagi. Dan sekarang saya mengerti, kalau saya melepaskan itu semua, saya akan menjadi an-sos a.k.a. anti sosial. Padahal untuk masa depan, sosialisasi itu sangat dibutuhkan, dan itu merupakan salah satu kelemahan saya di balik semua kelemahan yang ada di dalam diri saya sendiri. 

Bagaimana caranya berkomunikasi yang benar? Berkomunikasi yang baik? Saya selalu bingung bila bertemu teman. Harus membicarakan apa? Sesuatu yang di luar jangkauan saya adalah ini. Saya harus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dan benar. Belajar bersosialisasi dengan semua orang tidak terkecuali. Bagaimana untuk mencairkan suasana yang kaku dan tegang. Dan juga saya harus menanamkan kepada diri saya bahwa jangan terlalu mempedulikan pandangan orang lain. Untuk sebagai masukan/kritik boleh saja untuk memperbaiki sikap diri, tapi jangan sampai itu semua menghancurkan diri kamu sendiri!

Jadi, apakah saya mau berhenti atau lanjut???

Selasa, 10 April 2012

Galau

Mungkin ini memang cuma dimengerti oleh saya sendiri. Semenjak liburan kemarin saya makin lama makin malas untuk belajar. Ujian kian mendekat, saya seperti terancam untuk tidak naik tingkat bila begini terus menerus. Belum lagi TOEFL yang sangat mencekam bagi saya. Dua kali berturut-turut gagal. Padahal itu adalah syarat naik tingkat. 

Semua dikhawatirkan oleh saya, tapi yang tidak bisa dimengerti orang lain. Saya harus curhat kepada siapa? Saya harus melakukan apa? Jika saya curhat kepada orangtua saya, mereka pasti berkata bahwa saya pasti bisa, dsb. Tapi itu semua tidak cukup, perasaan saya masih tidak tenang. Namun, bila saya curhat kepada teman saya, mereka pasti berkata "Bohong.." atau "Jangan didengerin deh..". Seakan semua perkataan saya itu hanya rekaan belaka. 

Saya bukan orang yang banyak omong, lebih tepatnya pendiam. Dan bila saya berkata sesuatu itu tidak mungkin saya tidak kehendaki. Saya pasti berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, benar atau tidak, menyakitkan orang lain atau tidak. Tapi saya merasa apa ya? Kecewa? Jika saat saya berbicara yang sesungguhnya tapi mereka hanya menganggap itu main-main? 

Sudah putus asa saya menghadapi itu semua, dan pada akhirnya saya akan memutuskan untuk mencari pelarian, tidak ada yang lain. Saya tidak bisa belajar, saya tidak bisa konsentrasi belajar dan saya tidak mau tahu lagi. Keadaan di mana saya merasa tidak mau tahu lagi atau tidak mau peduli lagi adalah saat terburuk yang saya miliki. Saya benar-benar tidak peduli lagi apa yang terjadi di sekitar saya, tidak mau peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya bila saya melarikan diri dari masalah yang ada.

Saya kemudian tahu, jika saya terus menerus melakukan atau merasa seperti itu, hidup saya akan hancur. Tidak ada apa-apanya lagi. Tidak berguna sama sekali dan tidak ada masa depan yang cerah. Itu semua bagaikan mimpi buruk bagi saya di mana penyesalan selalu datang belakangan. Ahh... Saya harus bagaimana? Saya sudah mencoba menghindari itu semua, tapi sia-sia saja. Mustahil...

Akhirnya saya memutuskan untuk curhat di sini dan berfikir ke depan akan masa depan saya lalu melangkah maju meninggalkan kebiasaan buruk saya. Terima kasih Time After Time.. :D

Selasa, 06 Maret 2012

Kok bisa?

Sudah dari kemarin saya menerima keputusan pergi untuk mengambil transkrip nilai. Tapi sampai sekarangpun saya masih merasa tegang tidak karuan. Saya mencoba melakukan hal sehari-hari seperti biasanya. Karena kemarin malam saya bergadang, jadi tadi pagi saya terlambat bangun. Saya langsung bangun, sate, lalu mandi. Tidak lupa juga melanjutkan tugas yang harus dikerjakan kemarin malam itu. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, itu tandanya saya harus berangkat dari asrama menuju kampus. Dan sayangnya teman sekamar saya belom siap apa-apa. Mandi pun belum. Dengan amat berat hati, saya berkata untuk berangkat duluan. Lalu saya berangkatlah menuju teman saya di tempat lain, tapi saya malah balik lagi ke kamar untuk menukar buku yang mau saya baca. Benar-benar tidak mujur, sarapan saya ketinggalan saat saya sudah berangkat. Ya sudahlah saya merelakannya. Kuliah seperti biasa dari jam 8 pagi sampai dengan 12 siang. Tapi sayangnya sangat tidak efektif karena ada dosen yang tidak datang. Jadi banyak jam kosongnya. Nah saat-saat di sanalah saya mulai menggalau lagi akan hasil yang diberikan esok hari. Saya cerita kepada teman saya, namun dia berkata kepada saya untuk tenang, karena saya pasti mendapat nilai bagus untuk nilai transkrip nilai saya semester 1 ini. Namun, hati berkata lain, otak berkata lain, saya tahu apa yang sudah saya kerjakan selama ujian kemarin, sebisa apa saya menjawabnya dan sebanyak apa kesalahan dalam menjawab yang sudah saya prediksi. Saya memang sangat malas pada waktu itu , hanya sistem kebut semalam a.k.a SKS. Dan hasilnya tidak maksimal. Ya lalu saya pasrah saja dengan hasil yang ada.
Tiba waktu makan siang, saya pergi ke kantin dan mulai memilih apa yang mau saya makan. Hmm,, saya akhirnya memutuskan untuk makan baso malang Pak Alex! 
Hap, hap,,
Tess, tess..
Begitulah, saya makan baso malang sambil menambah ingredients di makanan tersebut yaitu keringat saya. hahaha
Setelah selesai makan, akhirnya saya dan teman saya pergi menuju kampus lagi untuk mengikuti informasi tambahan tentang nilai akhir tersebut. Tapi sebelum itu, saya menangis. Saya tidak mengerti mengapa.
Pada awalnya, saya ingin duduk bareng teman saya tin-tin, tapi ternyata di sebelah kanan dan kirinya sudah diisi teman yang lain. Okey, saya duduk di depannya yang masih kosong, dan merupakan baris kedua dari depan. Fine.. Namun, saya lihat teman saya yang lain juga ada di belakang sekitar baris ke 4/5. Nah saya bertanya apakah di sebelah ada yang menempati, karena saya melihat 1 deret sudah di tag. Teman saya pertama bilang, itu A, ini B, itu C, ini kosong kok. Pertama-tama yang saya rasakan seperti mereka sangat kompak sekali, saya ingin sekali seperti itu. Dan sayangnya teman saya tin-tin tidak ngetag buat saya dan teman sekamar saya. Akhirnya saya kembali ke tempat duduk saya dengan perasaan sedikit kesal, ditambah pula karena kekhawatiran saya akan nilai transkrip yang akan dibagi. 
Tik, tik, tik..
Berjatuhlah air mata, yang pada awalnya sedang biasa saja, tapi saya mulai pundung, dan tanpa sadar saya sudah menangis. Saya benar-benar bingung, kenapa saya bisa menangis. Masalah tempat duduk? Masalah nilai? Ternyata memang perasaan saya sedang kacau, sehingga saya sangat sensitive dan tidak mempedulikan orang lain. Jadi begitulah kejadiannya, semua orang mengerumuni. 
"Maaf Je, Maaf,,"
hiks, hiks, hiks
"Ayo, itu buat kamu tempat duduknya."
hiks, hiks, hiks
Saya tidak tahu, saya tidak mau pindah tempat duduk lagi, saya khawatir dengan transkrip nilai, saya menangis,, tanpa  penyebab yang jelas.
Kok bisa?

Kamis, 01 Maret 2012

Egois..

Selama sebulan ini, memulai sistem yang baru, saya merasakan hal-hal beda yang belum pernah saya alami sebelumnya. Ada disaat di mana saya senang melakukan sesuatu sampai ada disaat di mana saya sangat bosan melakukan suatu hal. Saya tidak tahu mengapa penyebabnya. Tapi jujur saja, ini ada hubungannya dengan hidup perkuliahan saya dan juga teman sekamar saya.
Pertama, hidup perkuliahan saya belum yang benar-benar saya harapkan sebelumnya. Nilai UTS yang dibagikan tidak memuaskan hati saya. Saya tidak bisa membanggakannya kepada orangtua saya. Saya tetap sedih walaupun ada teman yang merasa nilainya lebih mengecewakan lagi. Saya tidak mau membandingkan nilai saya dengan nilai teman yang lain, karena saya tau apa telah saya lakukan untuk mendapatkan nilai itu dan juga pengorbanan sebesar apa yang telah saya berikan. Dan terbukti pada hasilnya, tidak memuaskan. Saya memang masih banyak kekurangan, kelemahan dan banyak godaan yang mengalihkan perhatian saya. Dan mulai sistem baru ini saya mencoba mengatasi cobaan-cobaan tersebut. Saya berdoa kepada Tuhan, berserah kepada Tuhan, dan juga minta pertolongan-Nya. Tapi memang suatu keinginan daging tetap melekat di tubuh ini. Saya mencari pelarian bila saya bosan belajar, entah itu menonton film, internetan ataupun yang lain. Dan otomatis itu semua menyita waktu saya untuk belajar dan juga berhubungan dengan Tuhan. Saya mau berubah, saya mencoba pola belajar yang berbeda. Jika di salah satu buku sudah kebingungan dan mumet, maka saya akan pindah ke buku lain. Sehingga pelajaran tetap masuk. Namun saya juga masih ada kendala lainnya, saya selalu kurang tidur. Baik itu di lecture, tutor ataupun lab, saya pasti mengantuk. 
Memang bingung sekali, memilih antara belajar dan tidur. Walaupun prioritas utama saya adalah belajar tetapi tidur itu sangat-sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas belajar itu. Saya bukan manusia hebat seperti teman sekamar saya yang hanya tidur beberapa menit saja sudah cukup dan bisa memfokuskan diri untuk belajar. Saya bukan orang seperti itu, tapi saya tetap iri terhadapnya. 
Pelajaran sistem yang baru sangat menarik untuk dipelajari walaupun sangat banyak bahannya. Dan saya tidak bisa diam saja seperti tahun lalu yang mengandalkan lecture, padahal saya tetap ketiduran juga. Saya mencoba untuk membaca buku-buku yang menjadi acuan pada sistem ini. Saya membaca, mengartikannya dan mencoba untuk mengerti, walaupun itu proses yang memakan waktu. Tapi saya tetap lupa akan apa yang saya baca. Saya bingung,, saya harus berbuat apa agar bisa mengerti dengan baik. Dengan kemampuan bahasa inggris yang pas-pasan. Dengan kamus elektronik yang sudah habis baterainya. Dan juga dengan internet asrama yang agak macet-macet. Saya terus berusaha dan mencoba selalu belajar. Dan tidak tau kenapa apa saya mengikuti teman sekamar saya dengan menyatat?? 
TIDAK,,, saya tidak mengikutinya. Mungkin saya memang orang yang harus menulis untuk mengingat. Tiba-tiba saya teringat perkataan guru kimia saya di sma. "Menulislah, menulislah terus sampai 5 x atau lebih. Maka kamu akan mengingatnya. Saya juga begitu. Bilang kepada saya jika kamu tidak bisa mengingatnya juga."
Hmm.. Kini bukan masa sma lagi, yang main-main, masih bisa jalan-jalan.. Udah saatnya menentukan masa depanmu. Kamu tidak bisa main-main lagi, kamu harus serius menghadapi dunia ini, tantangan hidup berada di depanmu. Jika kamu mau sukses, maka berusahalah dan hindarilah semua godaan yang ada. Oke,, saya akan terus berjuang untuk meningkatkan nilai saya. Tapi, saya mempunyai masalah baru. Saya mengikuti banyak UKM di tahun pertama ini, tidak hanya 1 atau 2 tapi 5. Bayangkan!! Sebenarnya tujuan saya memilih UKM yang banyak ini adalah saya ingin bersosialisasi lebih dan lebih. Mengenal banyak orang, kakak senior, mungkin juga dosen. Saya ingin berubah di kuliah ini. Saya tidak mau kehidupan sosial saya balik lagi seperti sma dulu. Hanya mengenal teman sekelas dan hanya bersosialisasi dengnan teman sekelas. Alhasil, kemampuan bersosialisasi saya baik itu dalam berbicara, berpikir dan bertindak hanya terbatas itu-itu saja. Saya juga tidak mengikuti organisasi apapun, hanya untuk belajar. Tapi itu berdampak sampai sekarang, saya tidak mempunyai kemampuan lebih apa-apa dibandingkan orang lain yang sudah berpengalaman sebelumnya. Dan lagi-lagi saya merasa diri saya di bawah, dan saya sangat iri kepada orang lain itu.
Memulai hidup baru, di tempat baru, teman baru, lingkungan baru dan suasana baru. Saya akan terus dan terus berkembang di sini. Saya mau mengenal semua orang dan saya mau semua orang mengenal saya. Tapi saya tahu, saya mengimani hal yang salah. Tuhan mau kalau saya hidup di dunia ini BUKAN untuk dunia ini, tapi untuk Tuhan. Kebaktian Rabu (29/2/2012) kemarin sangat, sangat mengetuk hati saya. Saya benar-benar tertuju untuk dunia ini, bukan untuk Tuhan. Dan itu salah besar, karena saya tidak akan menemukan apa yang saya cari, dan apa yang saya merasa nyaman di dalamnya. Saya terharu, saya menangis, Tuhan seolah-olah berkata langsung terhadap saya. Saya merasa sangat berdosa, tidak memikirkan hal yang seharusnya saya pikirkan. Dan saya hasilnya hanya menyalahkan orang lain, yaitu teman sekamar saya.
Saya diamkan dia, saya merasa dia benar-benar 'holy' sedangkan saya tidak, saya merasa dia sangat rajin, pintar dalam hal yang saya tidak bisa. Yang saya tau kenapa saya seperti ini adalah saya merasa iri. IRI!! Itu semua salah saya. Kenapa manusia mempunyai rasa iri, padahal ia sudah diberikan sesuatu yang lebih daripada makhluk hidup lainnya? Kenapa? Kenapa manusia tidak pernah puas? Keinginan memuncak, pencapaian hanya omong kosong belaka. Alhasil menimbulkan kerugian pada orang lain. Itulah saya! Saya membuat dia merasa tidak nyaman dekat saya, mungkin dengan cara saya memperlakukannya, atau mungkin juga dengan semua tanggapan saya. Tapi dia menyadarinya, dan bertanya kenapa saya jadi begini.. Dan saya tidak bisa menjawabnya. Malu? Iya! Kesal? Banget! Trus mau berbuat apa? Tidak tau!
Saya selalu merasa kurang dan kurang, kurang inilah, kurang itulah. Banyak hal. Mau berbuat begini salah, begitu salah. Saya bingung. Karena ini tidak hanya masalah teman sekamar saja, tapi juga mempengaruhi pelajararn saya. Saya tidak bisa konsentrasi, tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa beristirahat dengan tenang. Saya memang parah, parah sekali... Tapi,, saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan keadaan semula. Untuk tersenyum saja, hati terasa ditusuk-tusuk, mata menjadi perih hingga keluar air mata,, Banyak kekhawatiran yang ada sehingga saya tidak bisa mengatasinya. Jika pada saatnya kekhawatiran2 itu meluap, saya tidak tau harus bagaimana. Apa yang terjadi pada teman sekamar saya, apa yang akan dia rasakan? Saya tidak tau. Saya benar-benar tidak tau, dan saya minta maaf. Tuhan, maafkanlah hamba-Mu ini yang berdosa, yang mempunyai pikiran jahat, keji dan juga perasaan iri, tidak berbelas kasih.. Kiranya Engkau mau    mengampuni apa yang telah hamba lakukan selama ini. Kiranya teman sekamar saya pun mau memaafkan dan memaklumkan apa yang telah saya berbuat kepadanya. Jika tidak, itu memang sudah menjadi tanggung jawab saya akan perbuatan yang telah saya perbuat.

Selasa, 14 Februari 2012

Dalam Kehancuran..

Setiap hari,, ada disaat saya males belajar.. Akhirnya saya melakukan sesuatu hal. Terus menerus, tidak ada hentinya, dan itu semua mengalihkan pikiran saya, membuang waktu saya, tidak peduli lagi dengan apa yang saya sedang kerjakan sekarang. Benar-benar parah sekali rasanya. Tuhan pasti sangat marah kepada saya... Saya bandel, tidak mengikuti perintahnya, malahan melanggarnya.
Saya bingung, kenapa saya selalu melakukan ini, kenapa saya seperti ini?
Setiap kali saya selesai baik karena menyadari atau memang sudah cape, saya selalu merasa sedih, tidak jarang tangis pun mengikuti.Dan saya selalu berdoa kepada Tuhan, untuk mengampuni kesalahan yang telah saya perbuat. Tapi apa??? Saya terus menerus melakukannya. Saya sudah minta ampun, bertobat, lalu beberapa hari kemudian melakukan lagi. Apa yang telah saya perbuat ya Tuhan? 
Tolong sadarkan saya, untuk kembali di jalanmu yang benar dan suci. Semua yang saya lakukan, perbuat, pikir, dan berkata, biar Tuhan saja yang memberkatinya agar sesuai dengan kehendakNya. Saya cinta Tuhan selalu. 

Rabu, 18 Januari 2012

Bingung,, Khawatir...

Hari ini adalah ujian terakhir untuk semester ganjil di tahun pertama saya. Memang saya merasa lega, tapi ada sesuatu hal yang membuat saya bingung dan juga khawatir..
Kemarin adalah hari yang panjang. Pagi-pagi saya sudah bangun untuk me-laundry baju. Tidak lupa pula membangunkan teman sekamar saya untuk me-laundry juga. 
"Ni,,, bangun.. Mau laundry ga? Udah jam 8.30." kata saya.
"Ahh..." kata teman sekamar saya sambil mengambil selimut dan tertidur kembali..
"Ampun deh ni,, nanti telat lho, kita jadi ga laundry.."
"Mmm" balasnya..
"Ya udah deh, saya duluan ya.."
"..."
Lalu tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah.. "Laundry 5 menit lagi!!!"
Dan teman sekamar saya pun langsung melek dari tidur panjangnya, dan bangun untuk mengambil kantong laundry. Saya pun sebenarnya kaget. Langsung saja saya berkata "Ni, ayo buruan.. 5 menit lagi tuh.. Ayo.."
Teman sekamar sayapun sudah benar-benar bangun dan mulai mengikuti saya turun ke bawah untuk laundry.
Sesudah laundry saya tidur kembali di ranjang yang paling keras yang pernah saya tiduri, tapi tetap saja serasa surga karena memang masih ngantuk dan capek sekali setelah belajar sampai tengah malam. Namun teman sekamar saya tidak mengikuti aksi saya. Tumben-tumbenan pikir saya, padahal teman sekamar saya itu paling suka tidur. Mau di ranjang sekeras apa pun, seberisik apapun, asal ada bucho, boneka teddy bearnya; dan shi-shi, selimut kesayangannya; serta mama dan empuk-empuk, bantal dan guling kesayangannya yang saking sayangnya tidak pernah dicuci selama setengah tahun ini. Bayangkan!!!
Ya sudahlah, pikirku. Aku mau tidur lagi. Dan teman sekamarku membawa setumpuk kertas keluar kamar untuk belajar pikirku.
Tidak terasa sudah pukul 10.30, ternyata saya kebo juga, terbukti benar apa yang dikatakan teman saya.. Hwhw
Teman sekamar saya sudah ada di kamar lagi dan mulai mendekati saya. 
"Tjie, mau tidur bareng.." katanya
"Ya udah sini.." kata saya yang baru bangun dari tidur tanpa mimpi.
Tidak lama kemudian setelah saya berdiam sebentar di ranjang yang keras itu, lalu saya langsung mandi dan menyegarkan diri saya dari segala godaan tempat tidur... Huam..
Sekarang giliran saya untuk keluar dan belajar..


To be continued.....