Hari ini adalah hari yang menegangkan menurut saya. SOOCA.. Huft.. Orang lain mungkin tidak mengerti keadaannya seperti apa, dan memang sebelumnya saya tidak membayangkan ada ujian seperti ini di dunia perkuliahan saya. Nyatanya, SOOCA ini harus saya lalui seumur hidup saya. Walaupun dalam konteks yang berbeda. Saat ini saya sedang menjalani pematangan keahlian yang akan dipakai nantinya, yang berguna bagi banyak orang.
Tapi walaupun begitu saya tetap merasa 1 jam ujian tersebut terasa mencekam, mematikan, dan menegangkan. Urat nadi saya sudah keluar, saraf di otak saya sudah menegang untuk belajar terus-menerus tentang hal ini. Saya bela-bela tidak pulang ke rumah demi SOOCA, padahal saya kangen setengah mati sama rumah saya. Rumah adalah tempat pelarian diri saya di kehidupan saya sekarang. Karena di mana ruang lingkup pergaulan saya hanya di kampus dan di asrama. Benar-benar an-sos... Jadi adanya di rumah, saya bukan belajar tapi malah bermain, nonton dan lain-lain.
Salah memang cara pikiran dan pandangan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi jika memang saya hanya pulang min 1 bulan sekali. HUHUHU
Dan akhirnya saya mati-matian berjuang untuk ujian yang bernama SOOCA ini. Saya rela tidur pagi hanya untuk membuat draft, saya rela tidak pulang ke rumah demi draft, saya rela tinggal di kamar sendirian, ansos, ditinggal teman sekamar yang selalu pulang ke Bandung demi draft, dan saya rela walaupun ada rasa mengganjal di hati saya setiap kali teman sekamar saya keluar untuk belajar, atau ke kamar teman lain jadi 'parasit' untuk belajar, saya tetap berjuang demi draft.
Apa yang sudah saya kerjakan dari awal semester sampai sekarang hanya ditentukan 1 jam dari hari ini. Dan ini merupakan sesuatu buat saya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan ketenangan bagi saya, memberikan ingatan kepada saya agar bisa mengerjakannya, memberikan kemampuan untuk berbicara dan juga kasus apa yang saya dapat itu benar-benar emang Tuhan aja yang menentukan. Bahwa saya haru membahas kasus ini, walaupun itu sesulit apapun, walaupun hasilnya itu tidak memuaskan.
Pada malam kemarin saya sudah hectic karena ada beberapa kasus yang saya belum pegang, dan sisanya saya hanya membacanya saja. Saya sudah tidak tau harus bagaimana lagi tapi saya berdoa, saya berserah kepada Tuhan apapun yang terjadi. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan sudah mengerjakan dengan seluruh kemampuan saya, walaupun saya sering mengeluh kepada Tuhan, tapi saya serahkan semuanya kepada Tuhan.
Dan baru SOOCA pertama kali ini saya tidur hanya 3 jam kurang, pada pagi hari yang sangat dingin dengan badan saya yang pegal-pegal dan dengan kekhawatiran akan kasus apa yang akan didapat di SOOCA nanti, saya bergerak untuk mandi. Dan memang air dingin tersebut membangunkan saya yang masih setengah tidur. Dinginnya begitu terasa sampai membuat saya menggigil. Tapi saya hanya bergegas saja agar tidak terlambat.
Sesampainya di ruang isolasi setelah mengantri cukup panjang untuk menandatangani absen, saya merasa harus mulai membaca draft saya dan mengingat lagi. Tapi nyatanya setelah membuka tas saya merasa malas untuk membacanya kembali. Akhirnya saya hanya berdiskusi dengan teman-teman saya akan kasus yang belum bisa. Saya ingin membahas kasus 8. "El, kasus 8 dong, kasus 8..." kata saya kepada teman saya. Tapi memang teman saya juga panik, dia belum terlalu menyiapkan apa-apa, jadi saya memaklumi. Lalu saya bertanya kepada yang lain "Za, boleh kasus 8 ga?". Tapi dia berkata "Bentar ya Je, ada yang belum bisa juga nih." Oke saya bilang dalam hati saya. Saya mengerti keadaan teman-teman saya. Karena saya pun juga begitu. Akhirnya dengan kemalasan yang saya miliki ditambah badan yang kurang enak, saya mengambil draft saya di tas dan mencobanya untuk membaca. Tapi sayangnya saat saya mulai membaca, nama saya dipanggil. Tiiddaakk dalam hati saya. Ya sudahlah saya pasrah saja. Saya tidak membaca lagi, saya hanya mengandalkan Tuhan.
Di ruang isolasi kedua, saya sudah mulai brain stroming kasus-kasus yang ada. Lalu saya jatuh pada kasus 8. Apa ya diagnosisnya, pikir saya. Tapi saya lewatkan begitu saja dan saya masuk ke ruangan mematikan dengan mengambil nomor kasus. Dengan malas saya keluar ruangan dan nyatanya saya kedua terakhir, berarti saya bisa memilih satu di antara dua. Oke,, ya, meja no 16. Saya mulai melihat ke sekitar mana ya meja no 16? Ya, ada di pojok sana. Dengan bergegas saya ke sana, dan melihat secarik kertas berisi kasus saya. Seeeeett.... Dengan membaca cepat, saya menyadari ini adalah kasus 8. ARrrrggghhh...
Tenang Je, tenang, kamu pasti bisa.. Saya mulai mengerjakannya dengan agak berantakan. Hehe, ya sudahlah. Lalu, teettt, waktu sudah habis, saya harus masuk ke ruangan dan mempresentasikan kasus saya di depan 2 dokter yang belum saya tau siapa.
Ya, ruangan 16 di sini... Sett,, saya melihat dokter-dokter yang baik.. Aaah.. Langsung saja saya masuk dengan tersenyum lebar. Hehe..
"Pagi Dok." sapa saya dengan semangat.
"Bahagia sekali." kata dokter Leo,,
"Iya, memang harus dengan tersenyum ya.. " sambungnya.
"Kamu pernah ketemu saya kan?" tanyanya.
"Udah kok dokter Leo, saya juga sudah pernah dengan dokter Titing juga."
"Oh, jadi kamu sudah tahu kan apa yang sudah saya berikan."
"Iya, Dok (dalam hati yang mana ya????)
"Jadi hari ini ujian bukan?"
"Bukanlah, Dok.. " jawab saya sambil tertawa terpendam..
Langsung saya memasang flipchart dan mempresentasikan kasus yang saya punya.
"Anggap saja kami tidak tau apa-apa." kata dokter Leo lagi.
"Iya, Dok"
.................................................
Dengan sedikit tegang dan agak tersendat-sendat saya mempresentasikannya. Lalu ada di saat di mana saya merasa kebingungan. Tapi saya tetap menjalaninya.
"Yak sekian.." kata saya.
"Dan terima kasih." kata dokter Leo.
Hahaahaha saya tertawa.
"Ada yang mau ditambahin, Dok?"
"Itu kenapa bisa begini ya? Itu kenapa bisa begitu ya?"
Saya hanya bisa menjawab sebisa saya, dan ternyata saya missed sesuatu yang penting yang fatal dengan nilai saya. Tapi ya sudahlah itu sudah terjadi.
TEEEEEEEEEETTTTTTTT!!!!!!
Akhirnya saya keluar ruangan menuju hasil yang saya dapat. Padahal saya sudah merasa, arrgghh, ada yang kurang, ada yang salah, tadi saya enggak bisa jawab. Aduh bagaimana dong... Tidaakk...
Ya udah deh Tuhan, apapun yang sudah saya kerjakan saya serahkan kepadaMu.
Akhirnya saya masuk lagi dan duduk.
"Kamu merasa gimana?"
"Banyak yang kurang, Dok. Saya enggak bisa jawab tadi yang bagian ini ma itu."
"Iya, tadi kamu tidak menyebutkan bagian ini, dan itu cukup mengurangi nilai kamu, tapi enggak apa-apa. Kamu lulus. Dapat A." kata dokter Leo.
"Makasih, Dok."
"Padahal kami maunya kasih kamu 100 tapi bagaimana ya?" kata dokter Leo.
Lalu dengan pdnya saya berkata, "Kalau mau ditambahin juga enggak apa-apa kok, Dok" sambil tersenyum.
Hahha.. "Tidak bisa sayangnya.."
"Heheh,, Makasih lagi dokter... "
Akhirnya saya melewati 1 jam mengerikan itu dengan penuh peluh, dan saya keluar dengan penuh sukacita. Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang indah dan mulia ini...
I Love You, God.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar