Kamis, 20 Juni 2013

Menangis dan tertawa dalam satu hari yang sama

Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh saya, yaitu ujian hari terakhir. Ujian terakhir ini merupakan ujian praktek. Dan ujiannya pun dibagi menjadi hari pertama, kedua dan ketiga, dan saya mendapatkan hari kedua. Saya sudah belajar, menghafalkan, mengerti, mempelajarinya baik-baik, walaupun baru saya lakukan dari 2 hari sebelumnya. Untuk ujian ini, saya tidur lebih awal daripada biasanya walaupun tetap saja malam, dan pada malam itu saya kurang bisa tidur awalnya, tapi akhirnya pun saya tertidur nyenyak dan terbangun dengan alarm hp saya yang menunjukkan pukul 05.30. Saya kemudian bangun, saat teduh, dan mandi. Tidak lupa untuk sarapan terlebih dahulu dan memotong apel untuk bekal. Hehe

Di hari yang masih dingin, saya keluar berjalan menuju kampus. Sesampainya di sana, belum terlalu banyak orang yang datang. Saya dan teman-teman duduk dan menunggu dipanggilnya nama kita. Selama ini saya memang bukan orang yang dipanggil duluan, maka dari itu saya mendapatkan kloter 2. Sebelum dipanggil saya menyempatkan diri untuk makan apel bekal saya dan juga mi goreng special. Ternyata ujian ini menyerap banyak energi maka dari itu dibutuhkan juga asupan makan yang banyak. Haha (*atau mungkin memang saya yang gembul?)

Ternyata sebelum saya ujian, saya diisolasi lagi di perpustakaan, hufft... Ya sudah saya sempatkan saja diri saya untuk tidur sejenak sambil menghafal kembali ujian saya. Bla, bla, bla, bla, bla, zzz, zzz, zzz, zzz.......
Saya tegang saat dipanggil langsung masuk ke ruangan. Di sana ada 16 station dengan di dalamnya 4 station istirahat. Mungkin saya disuruh untuk menenangkan diri terlebih dahulu maka dari itu saya diberi station istirahat terlebih dahulu. 10 menit x16 = 160 menit alias 2 jam 40 menit. Tapi sangat tidak terasa, karena memang setiap 10 menit berganti station. Malahan tidak cukup menurut saya. Hwhwh

Pada awal-awal sebenarnya saya sudah melakukan kesalahan, wound care and dressing saya lupa akan sterile dan non-sterile step, tidak tau bagaimana hasilnya semoga dokter baik ini meluluskan saya. Berlanjut ke dermatological status, saya tenang-tenang saja di sana, sampai saya melihat gambar 3 macam kuku. Sejujurnya, saya tidak mempelajari bagian itu, baru tadi pagi saya berdiskusi dengan teman saya. Dan ternyata itu keluar. Saya agak panik karena saya lupa namanya apa, tapi saya mencoba menenangkan diri dan mengingat kembali. Puji Tuhan ternyata benar. Wah, Tuhan sudah membimbing saya selama ujian tersebut. Lalu berlanjut ke Differential counting, saya melakukan kesalahan, pertama, saya tidak menunjukan penampang preparat yang benar, kedua, saya salah memasukan perhitungan saya ke tabel tetapi untungnya saya bisa menjawab pertanyaan dokter tentang suatu preparat.

Setelah itu saya beristirahat lagi, kembali merenung, bagaimana station saya yang lewat tadi lulus atau tidak. Lanjut... Ke HT dan PE ENT, ya Puji Tuhan berjalan dengan baik dengan bantuan dokternya yang memasangkan headlamp karena tidak pas dengan kepala saya. Lalu, Wood splinting, dengan dokter baik lgsg memanggil saya Jessica, perlakukan seperti pasien sebenarnya ya. Saya melakukannya dengan baik, dibantu oleh dokternya untuk mengingat apa yang kurang yaitu recordnya. Untuk HT allergy, saya sebenarnya dibantu oleh pasiennya tetapi sayangnya saya tidak menyadarinya. Saya sudah menanyakan apa saja yang perlu ditanyakan, sesuai dengan modul pastinya, kemudian kata dokternya ada lagi yang mau ditambahkan, cuma kulit saja? Ya sudah saya mengulang lagi pertanyaan saya sebelumnya, dengan muka yang tidak tahu bagaimana yang sudah bingung apa lagi yang kurang, sang pasien membisikan sesuatu, saya mencoba menerka apa yang dikatakannya dengan diam-diam agar tidak ketauan si dokter. Tapi sayangnya saya tidak bisa menebaknya apa itu dan berakhir dengan tertawa. Hahaha. Makasi buat sang pasien yang sudah berusaha memberitahukan sesuatu yang kurang kepada saya walaupun saya tidak bisa mengartikannya. Saya mendapat kesenangan, penghiburan di saat itu dan saya merasa ujian ini saya benar-benar menikmatinya dengan cemas, khawatir, gelisah, tegang, menangis, tersenyum, dan tertawa.

Di istirahat yang ketiga ini saya sudah merasa haus sekali, maka dari itu saya mengambil minum yang sudah disediakan dan meminumnya langsung sampai habis, srrrllllppptt... Selanjutnya adalah HT anemia, saya merasa suka sekali dengan HTnya, saya bisa bertanya walaupun sesuai dengan modul, tapi saya mencoba untuk mengelaborasikannya, untuk menannyakan yang berbeda, dan di sisa waktu dokter pun bertanya sudah selesai atau ada yang mau ditambahkan, kalo tidak ada tinggal menunggu waktu bel, maka dari itu saya pun memilih untuk menunggu sampai bel karena sudah semua saya menanyakan kepada sang pasien. 

Saat suturing sebenarnya saya bingung dengan pertanyaannya, harus melakukan apa. Lalu dengan embel-embel perkenalan diri, tanya identitas pasien, inform consent lalu cuci tangan pakai gloves saya langsung saja suturing. Tapi saya sebenarnya salah, dan banyak yang kurang. Makasih buat dokter yang udah meluluskan saya, saya akan belajar suturing lebih dalam lagi. Hehe.. Hampir saja saya tidak lulus karena suturing. Huft. Yang paling menyenangkan adalah PE Orthopedi, dokternya asik, dan lucu. Kalo ada yang kurang pasti beliau melihat kepada saya, baru saya tambahkan dan beliau berkata, "Nah, gitu dong..", maka saya pun tertawa. Saya juga sempat berbicara sekilas dengan standard pasien bahwa tadi pagi ada yang tidak lulus 2 orang walaupun si standard pasien ini sendiri yang sudah memberi tau. Cckckc, (*memaklumi mereka, karena disaat tidak tau apa-apa atau saat tegang maka segalanya pun jadi buyar dan tidak melihat sekitar).

Istirahat yang terakhir, dan juga yang paling menegangkan karena 3 station selanjutnya adalah station yang paling penting dan takut tidak lulusnya paling tinggi. Pertama Basic Life Support, dokter yang cantik dan baik, karena arahannya saya pun bisa benar-benar mengerti bagaimana menangani pertolongan pertama dengan benar. Makasi, Dokter. :D Walaupun, tenaga saya sudah habis dimakan oleh CPR 5 cycles ini, tapi saya bersyukur sudah bisa melakukannya.

Saya tidak pernah mengira bahwa station ini akan mengancam ketidaklulusan saya akan ujian OSCE ini. Yang mengharuskan saya untuk remedial. Saya melakukannya dengan benar, dan bertahap. Tapi kenapa dokternya malah datang telatlah, malah main tabletlah, dan menyuruh saya mengulang kembali apa yang udah saya lakukan. Huft.. Saya panik karena saya ditanya hal yang sama tentang pemeriksaan liver dan spleen. "Jadi bagaimana permukaannya, apa yang kamu temukan, jangan berdasarkan teori tapi pasiennya gimana........, Wah, kalo gini kamu ga lulus ini". "Jangan dong, Dok, tolong." Saya sampai memelas agar diluluskan dan saat itu hati saya kacau, ingin menangis rasanya. Dengan perasaan yang sudah menjadi-jadi saya keluar karena sudah bel 2 x dan langsung masuk ke station selanjutnya.

Di station terakhir ini, masih ada teman saya yang ada di dalam, tpi saya langsung mulai begitu dokternya memberitahu saya untuk mulai. Saya kesusahan dalam memakai gown, mask, gloves untuk corpse management.. Saya mulai panik tidak bisa memegang alat. Dan sampai sudah bel pun saya belum selesai dan masih memakai peralatan dengan lengkap. Tapi ternyata dokternya baik dan bertanya kepada saya yang masih belum karena memang kebetulan ini adalah station terakhir dan tidak ada yang datang lagi.

Tapi saya teringat lagi akan station sebelumnya di mana saya dibilang tidak lulus, dan tanpa saya sadari air mata sudah memenuhi mata saya. Saya keluar berusaha untuk ceria, walaupun hidung terlihat merah. Saya cuma bersyukur buat Tuhan yang udah membimbing saya, menyertai saya saat ujian dan menguatkan saya. Makasi buat hasil yang terbaik yang udah saya dapatkan 2 hari kemudiannya. Tuhan Mahadasyat! :D

Selasa, 21 Mei 2013

Long lasting problem in my life

It's not normal!!!
Saya selalu percaya, bahwa saya bisa melakukannya, saya mampu melakukannya dengan baik, dengan tepat waktu, dengan semampu yang saya bisa dan saya bisa mencapai apa yang saya inginkan. Saya percaya, saya mampu. Tapi ada satu hal di dalam diri saya membuat semuanya mustahil. Saya bisa meninggalkan semuanya tanpa memikirkan atau khawtir sedikitpun, saya bisa melakukan suatu kesenangan di dalam dunia ini, meninggalkan jalan yang benar. 

Saya selalu berpikir, bagaimana nanti saya ke depannya, mau diapakan hidup saya yang sudah berantakan ini. Semua ini salah saya, saya yang melakukan semuanya itu dan saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan. Saya tidak berhak untuk menghakimi orang lain bahkan Tuhan. Saya tidak berhak marah untuk segala apa yang saya dapat, apapun hasilnya. Saya hanya bisa merenung dalam kesedihan, keterpurukan di ruangan yang seperti tidak ada satu nyawapun di situ.

Berkali-kali saya berjanji pada Tuhan bahwa saya akan meninggalkan kedagingan dalam diri saya. "Tuhan, kalo saya dapat nilai bagus di dalam ujian ini, saya berjanji akan meninggalkan kedagingan saya"; "Tuhan, kalo saya lolos dalam lomba ini saya mau mengikuti jalan-Mu"; "Tuhan,,,,,". Semuanya bagi saya itu sekarang hanya janji dan omongan kosong yang tidak pernah tercapai. Saya hanya bertahan paling banter 1-2 minggu, setelah itu saya kumat lagi.

Saya harus melakukan apa, Tuhan? Saya tidak tau harus berbuat bagaimana? Seberapa kotor diri saya yang telah melakukan dosa yang amat berat di mata-Mu, saya tidak tau lagi. Dan dalam diri saya masih banyak kedagingan-kedagingan lain yang selalu menghampiri saya. Hanya Engkau yang memberi saya hidup di dunia, dan kepada Engkau saja harusnya saya sembahkan seluruh hidup dan jiwa saya. Saya harus tetapkan itu pada hidup saya sampai selama-lamanya.

Senin, 05 November 2012

Jalanku?

Jalanku ?


Selalu saja ada alasan untuk tidak berjalan di jalan yang benar
Selalu saja ada kesempatan untuk beristirahat berlebihan dengan meninggalkan kewajiban
Selalu saja terjebak dalam lubang yang sama

Berkali-kali aku berdoa, meminta pertolongan Tuhan
Berkali-kali pula aku melakukan hal yang sama
Berkali-kali pula aku menangis menyesali apa yang telah terjadi

Pekerjaan mulai bertambah banyak
Tanggung jawab kian membesar
Aku makin lama makin menjauh dari jalan lurus itu

Kadang aku berpikir untuk membiarkan saja
Kadang aku berpikir bahwa aku harus melakukan yang lebih baik
Selalu aku berpikir kepada-Mu tapi jarang kulaksananakan tugas-Mu

Kutakut ini berkelanjutan
Terjun dalam lembah kekelaman
Jikalau ada tangan-Mu yang menopangku selalu
Mengangkatku dari jurang terdalam
Menjamahku dan memulihkanku
Aku bisa bangkit, berubah,dan kembali bekerja

Rencana Tuhanlah yang termegah
Aku hanya pengikut-Nya
Aku mau mengikuti-Nya
Tapi, manakah jalan yang benar???




Minggu, 08 Juli 2012

Inspirasi



                Mungkin memang ini hanya suatu kebetulan, atau memang sudah ditakdirkan. Saya, Jessica, percaya dengan apa yang dinamakan takdir. Yah walaupun memang tidak ada yang pasti di dunia ini. Tanpa memilih-milih dalam waktu yang lama, saya mengambil sebuah novel di toko buku terdekat. Judulnya Heaven karya Agnes Jessica. He he... Bukan berarti saya memilihnya karena nama kami say ya...
                Pada awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk membacanya karena saya juga sudah membeli beberapa film untuk ditonton. Kemudian saya berpikir bahwa saya sudah membelinya, kenapa tidak dibaca saja. Saya tahu bahwa novel-novel karya Agnes Jessica itu bagus dan bermakna. Maka dari itu saya pun membacanya...
                Saya mulai masuk dalam dunia di novel tersebut dari setiap lembar halaman yang saya baca. Saya menjadi mempunyai pengetahuan lebih akan suatu hal. Novel Agnes Jessica memang terkenal di kalangan anak remaja dan anak muda. Tema novelnya pun beragam, kebetulan saya membaca yang berhubungan dengan agama dan itu menarik perhatian saya. Walaupun hanya sebuah buku yang berisi karangan seseorang, saya merasa ada hal yang menggerakkan hati saya, ketika saya membaca novel tersebut.
                Novel ini bercerita tentang seorang gadis yang hidup berkekurangan dan dipaksa oleh ibunya untuk menikah karena masalah ekonomi keluarga. Cerita ini cukup umum di kalangan masyarakat, namun yang menarik adalah gadis ini tertabrak TransJakarta sehingga meninggal. Tapi sayangnya ini bukan waktunya untuk meninggal, maka dari itu gadis ini hidup kembali. Di sini diceritakan suatu tempat yang di bayangan saya merupakan surga. Saya tidak tahu surga seperti apa, ada siapa saja, mungkin malaikat ataupun makhluk lainnya. Pembawaan novel ini sangat menarik, dan layak dijadikan rekomendasi pembaca.
                Ternyata ada kesalahan di ‘surga’ tersebut, sehingga gadis ini ingat akan apa yang terjadi saat ia ‘mati suri’. Maka, dikejarlah gadis ini oleh ‘malaikat’ agar ingatan akan ‘surga’ tersebut terhapus. Tapi sayangnya ada masalah lain, walaupun sudah dihapus ingatan akan ‘surga’ tersebut, gadis ini masih bisa mengingatnya, karena ia bertemu dengan orang lain yang bisa mengembalikan ingatan tersebut.
                Hebatnya, orang tersebut bisa melihat ‘lingkaran halo’ pada orang-orang yang pernah mati suri seperti gadis ini. Padahal rahasia ‘surga’ tidak dibocorkan kepada umat manusia karena akan mengacaukan keadaan yang ada. Namun, orang tersebut bersikeras untuk melakukan suatu penelitian kepada orang-orang yang pernah mati suri dengan mewawancarainya, seperti dirinya sendiri. Ia berambisi untuk menemukan dunia lain selain dunia ini sendiri.
                Sudah ada 20 orang di dunia yang pernah mati suri yang telah ditemui olehnya. Dan kesaksian dari mereka semua berbeda-beda. Tidak lama orang ini tiba-tiba menghilang dan gadis ini berusaha mencari orang ini dengan mengelilingi dunia menemukan orang-orang yang pernah mati suri tersebut. Dari yang sudah diwawancari mereka semua menuju pada satu keyakinan bahwa mereka menunggu datangnya ‘jalan kebenaran’. Sayangnya setelah diwawancari oleh gadis ini, mereka semua satu per satu meninggal. Gadis ini mulai bingung dan ketakutan, ada hal dibalik kejadian misterius ini.
                Ada seseorang atau sesuatu yang ikut campur di dalamnya, dan diketahui dia adalah Lucifer, seorang iblis atau biasa di sebut malaikat yang jatuh ‘The Fallen Angels’. Iblis ini membujuk orang yang mempunyai ambisi untuk mengungkapkan rahasia dunia lain itu untuk menjadi kaki tangannya dengan membunuh orang-orang yang pernah mati suri tersebut dengan memberi imbalan akan diberikan perpanjangan hidup bagi setiap kepala yang meninggal. Walaupun saya tidak terlalu mengerti tapi saya bisa membayangkannya, tapi Tuhan selalu berkuasa. Dan Ia dapat mengalahkan iblis tersebut melalui gadis ini.
                Yang mau saya tekankan sebenarnya adalah saya mendapat sesuatu yang menginspirasi hati saya. Semua agama di dunia ini sebenarnya adalah sama, semuanya menuju pada Tuhan yang sama mungkin hanya berbeda caranya saja. Baik itu yang tertulis dalam alkitab, al quran, atau kitab-kitab lain. Mereka semua memberikan kita semua petunjuk mengenai ‘jalan kebenaran’ yang sesungguhnya, yaitu percaya pada Tuhan.
                Saya juga membayangkan apa yang ada di dalam novel tersebut, dalam agama Kristen asal kita percaya pada Tuhan Yesus dan mengimani-Nya, maka kita akan memperoleh tempat yang sudah disediakan Tuhan sendiri untuk kita. Tempat yang nyaman, penuh dengan makanan, taman yang indah, dan di sana kita bisa berinteraksi langsung dengan Yesus. Saya membayangkan tempat tersebut putih semuanya, sangat bersih, sangat mewah, sangat teratur dan indah.
                Dan saya juga setuju apa yang ada di novel Heaven ini, bahwa walaupun di bumi ini hanya sebentar saja, kita, umat manusia yang percaya pada Yesus Kristus mempunyai misi tersendiri mengapa ada di dunia ini, yaitu menyebarkan injil Yesus Kristus kepada seluruh dunia. Bahwa karena kasih Allah yang begitu besar sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita untuk turun ke bumi menyelamatkan umat manusia dengan rela mati di kayu salib menanggung seluruh dosa kita agar kita tidak binasa, melainkan hidup yang kekal. Di dalam menyebarkan kerajaan Allah, kita akan semakin dan semakin dekat dengan Tuhan Yesus, kita bisa berkomunikasi dengan-Nya, melakukan apa yang telah dilakukan-Nya terdahulu seperti menyembuhkan orang yang sakit, dsb.
                “Wah......”, kata saya terkagum-kagum. Kita hidup di dunia bukanlah tanpa rencana, tapi Tuhan sudah menyiapkan seluruh rencana-Nya dari awal hingga akhir. Baiklah kita terus meningkatkan kualitas diri kita sehingga kita bisa lebih dekat dan mengenal lebih tentang Allah.
I love You, God...
Jessica
24/06/2012

Rabu, 30 Mei 2012

Thanks God

Hari ini adalah hari yang menegangkan menurut saya. SOOCA.. Huft.. Orang lain mungkin tidak mengerti keadaannya seperti apa, dan memang sebelumnya saya tidak membayangkan ada ujian seperti ini di dunia perkuliahan saya. Nyatanya, SOOCA ini harus saya lalui seumur hidup saya. Walaupun dalam konteks yang berbeda. Saat ini saya sedang menjalani pematangan keahlian yang akan dipakai nantinya, yang berguna bagi banyak orang. 

Tapi walaupun begitu saya tetap merasa 1 jam ujian tersebut terasa mencekam, mematikan, dan menegangkan. Urat nadi saya sudah keluar, saraf di otak saya sudah menegang untuk belajar terus-menerus tentang hal ini. Saya bela-bela tidak pulang ke rumah demi SOOCA, padahal saya kangen setengah mati sama rumah saya. Rumah adalah tempat pelarian diri saya di kehidupan saya sekarang. Karena di mana ruang lingkup pergaulan saya hanya di kampus dan di asrama. Benar-benar an-sos... Jadi adanya di rumah, saya bukan belajar tapi malah bermain, nonton dan lain-lain. 

Salah memang cara pikiran dan pandangan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi jika memang saya hanya pulang min 1 bulan sekali. HUHUHU
Dan akhirnya saya mati-matian berjuang untuk ujian yang bernama SOOCA ini. Saya rela tidur pagi hanya untuk membuat draft, saya rela tidak pulang ke rumah demi draft, saya rela tinggal di kamar sendirian, ansos, ditinggal teman sekamar yang selalu pulang ke Bandung demi draft, dan saya rela walaupun ada rasa mengganjal di hati saya setiap kali teman sekamar saya keluar untuk belajar, atau ke kamar teman lain jadi 'parasit' untuk belajar, saya tetap berjuang demi draft. 

Apa yang sudah saya kerjakan dari awal semester sampai sekarang hanya ditentukan 1 jam dari hari ini. Dan ini merupakan sesuatu buat saya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan ketenangan bagi saya, memberikan ingatan kepada saya agar bisa mengerjakannya, memberikan kemampuan untuk berbicara dan juga kasus apa yang saya dapat itu benar-benar emang Tuhan aja yang menentukan. Bahwa saya haru membahas kasus ini, walaupun itu sesulit apapun, walaupun hasilnya itu tidak memuaskan. 

Pada malam kemarin saya sudah hectic karena ada beberapa kasus yang saya belum pegang, dan sisanya saya hanya membacanya saja. Saya sudah tidak tau harus bagaimana lagi tapi saya berdoa, saya berserah kepada Tuhan apapun yang terjadi. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan sudah mengerjakan dengan seluruh kemampuan saya, walaupun saya sering mengeluh kepada Tuhan, tapi saya serahkan semuanya kepada Tuhan. 

Dan baru SOOCA pertama kali ini saya tidur hanya 3 jam kurang, pada pagi hari yang sangat dingin dengan badan saya yang pegal-pegal dan dengan kekhawatiran akan kasus apa yang akan didapat di SOOCA nanti, saya bergerak untuk mandi. Dan memang air dingin tersebut membangunkan saya yang masih setengah tidur. Dinginnya begitu terasa sampai membuat saya menggigil. Tapi saya hanya bergegas saja agar tidak terlambat.

Sesampainya di ruang isolasi setelah mengantri cukup panjang untuk menandatangani absen, saya merasa harus mulai membaca draft saya dan mengingat lagi. Tapi nyatanya setelah membuka tas saya merasa malas untuk membacanya kembali. Akhirnya saya hanya berdiskusi dengan teman-teman saya akan kasus yang belum bisa. Saya ingin membahas kasus 8. "El, kasus 8 dong, kasus 8..." kata saya kepada teman saya. Tapi memang teman saya juga panik, dia belum terlalu menyiapkan apa-apa, jadi saya memaklumi. Lalu saya bertanya kepada yang lain "Za, boleh kasus 8 ga?". Tapi dia berkata "Bentar ya Je, ada yang belum bisa juga nih." Oke saya bilang dalam hati saya. Saya mengerti keadaan teman-teman saya. Karena saya pun juga begitu. Akhirnya dengan kemalasan yang saya miliki ditambah badan yang kurang enak, saya mengambil draft saya di tas dan mencobanya untuk membaca. Tapi sayangnya saat saya mulai membaca, nama saya dipanggil. Tiiddaakk dalam hati saya. Ya sudahlah saya pasrah saja. Saya tidak membaca lagi, saya hanya mengandalkan Tuhan. 

Di ruang isolasi kedua, saya sudah mulai brain stroming kasus-kasus yang ada. Lalu saya jatuh pada kasus 8. Apa ya diagnosisnya, pikir saya. Tapi saya lewatkan begitu saja dan saya masuk ke ruangan mematikan dengan mengambil nomor kasus. Dengan malas saya keluar ruangan dan nyatanya saya kedua terakhir, berarti saya bisa memilih satu di antara dua. Oke,, ya, meja no 16. Saya mulai melihat ke sekitar mana ya meja no 16? Ya, ada di pojok sana. Dengan bergegas saya ke sana, dan melihat secarik kertas berisi kasus saya. Seeeeett.... Dengan membaca cepat, saya menyadari ini adalah kasus 8. ARrrrggghhh...
Tenang Je, tenang, kamu pasti bisa.. Saya mulai mengerjakannya dengan agak berantakan. Hehe, ya sudahlah. Lalu, teettt, waktu sudah habis, saya harus masuk ke ruangan dan mempresentasikan kasus saya di depan 2 dokter yang belum saya tau siapa. 

Ya, ruangan 16 di sini... Sett,, saya melihat dokter-dokter yang baik.. Aaah.. Langsung saja saya masuk dengan tersenyum lebar. Hehe.. 
"Pagi Dok." sapa saya dengan semangat. 
"Bahagia sekali." kata dokter Leo,, 
"Iya, memang harus dengan tersenyum ya.. " sambungnya. 
"Kamu pernah ketemu saya kan?" tanyanya.
"Udah kok dokter Leo, saya juga sudah pernah dengan dokter Titing juga."
"Oh, jadi kamu sudah tahu kan apa yang sudah saya berikan." 
"Iya, Dok (dalam hati yang mana ya????) 
"Jadi hari ini ujian bukan?" 
"Bukanlah, Dok.. " jawab saya sambil tertawa terpendam..
Langsung saya memasang flipchart dan mempresentasikan kasus yang saya punya.
"Anggap saja kami tidak tau apa-apa." kata dokter Leo lagi.
"Iya, Dok"
.................................................
Dengan sedikit tegang dan agak tersendat-sendat saya mempresentasikannya. Lalu ada di saat di mana saya merasa kebingungan. Tapi saya tetap menjalaninya.
"Yak sekian.." kata saya.
"Dan terima kasih." kata dokter Leo.
Hahaahaha saya tertawa.
"Ada yang mau ditambahin, Dok?"
"Itu kenapa bisa begini ya? Itu kenapa bisa begitu ya?"
Saya hanya bisa menjawab sebisa saya, dan ternyata saya missed sesuatu yang penting yang  fatal dengan nilai saya. Tapi ya sudahlah itu sudah terjadi.
TEEEEEEEEEETTTTTTTT!!!!!!
Akhirnya saya keluar ruangan menuju hasil yang saya dapat. Padahal saya sudah merasa, arrgghh, ada yang kurang, ada yang salah, tadi saya enggak bisa jawab. Aduh bagaimana dong... Tidaakk... 
Ya udah deh Tuhan, apapun yang sudah saya kerjakan saya serahkan kepadaMu.
Akhirnya saya masuk lagi dan duduk.
"Kamu merasa gimana?"
"Banyak yang kurang, Dok. Saya enggak bisa jawab tadi yang bagian ini ma itu."
"Iya, tadi kamu tidak menyebutkan bagian ini, dan itu cukup mengurangi nilai kamu, tapi enggak apa-apa. Kamu lulus. Dapat A." kata dokter Leo.
"Makasih, Dok."
"Padahal kami maunya kasih kamu 100 tapi bagaimana ya?" kata dokter Leo.
Lalu dengan pdnya saya berkata, "Kalau mau ditambahin juga enggak apa-apa kok, Dok" sambil tersenyum.
Hahha.. "Tidak bisa sayangnya.."
"Heheh,, Makasih lagi dokter... "

Akhirnya saya melewati 1 jam mengerikan itu dengan penuh peluh, dan saya keluar dengan penuh sukacita. Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang indah dan mulia ini...
I Love You, God.......

Sabtu, 26 Mei 2012

Masa Paling Rentan

Sudah belakangan ini, saya mencoba untuk mengendalikan emosi saya. Saya mencoba untuk lebih dan lebih bisa mengontrolnya. Tapi nyatanya mungkin belum bisa. Karena tidak jarang teman-teman terdekat saya, bahkan sahabat saya sendiri pun merasakannya. Saya bingung, karena semua menganggap saya gampang marah. Ketika saya diam saja, saya dibilang marah. Mau bagaimana lagi jika saya memang mempunyai wajah normal yang sangattt jutteeekkk. 

Oke.. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya mencoba untuk minta maaf kepada semuanya, apa yang telah saya lakukan, atau bagaimana saya bersikap yang tidak mengenakan bagi yang lainnya. Maafkan saya semuanya. Saya akan berusaha memperbaiki air muka saya. Semoga yang lainnya tidak menjadi salah paham. Namun, nyatanya itu tidak mudah sama sekali. Apa yang sudah tertanam dalam diri saya, tidak bisa berubah sampai saya harus mencakulnya begitu dalam sehingga terambil akar tersebut. 

Saya pernah mempunyai pikiran, bagaimana kalau saya mencoba menarik diri dari semuanya ini. Bukan dalam arti menghilang, tapi mengurangi apa yang sudah ada. Saya akan gabut dalam kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, lalu saya akan menghindari keramaian yang ada. Selalu berdiam diri dengan pikiran sendiri. Berbicara seperlunya dan seadanya. Menutup akses diri ke dunia luar dan terkungkung dalam dunia sendiri yang kian lama kian berat hawa yang melingkupinya. Lalu tiba saatnya saya tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut, saya meledak bagaikan bom yang sudah lama tidak diaktifkan. Saya menjadi tidak peduli dengan diri sendiri dan sekitar saya. Saya menangis meraung-raung tanpa sebab yang jelas. Dan akhirnya saya tidak peduli dengan ke depannya.

Saya benar-benar mempunyai pikiran seperti itu. Tanpa ada dorongan dari orang lain. Tapi saya tau itu salah besar. Saya salah jika saya menempatkan diri seperti itu. Saya akan sangat menyesal nantinya seperti sekarang yang saya alami. Saya tidak bisa mengekspresikan diri saya seluas-luasnya, berteman sebanyak-banyaknya, terkurung dalam satu sarang yang benar-benar aman. Saya tidak mau ambil inisiatif, atau mungkin resiko untuk mencoba keluar, berkelana, mencari pengalaman baru. Saya menyesal akan hal itu. Waktu pun tidak memihak kepada saya, dan memang waktu menjadi panutan saya untuk hidup. 

Sekarang, di tempat yang baru, di waktu yang masih ada, saya akan mencoba melakukan hal tersebut. Melakukan kegiatan yang ingin saya lakukan. Terbang bebas tanpa ada rasa takut demi mencapai langit tertinggi... :D

Sabtu, 14 April 2012

Suka banget...

Sejak pertama kali bertemu, saya merasa sesuatu yang baru. Yang sangat berbeda dari diri saya ini. Dia rajin, lucu, jayus mungkin bisa dibilang juga, sopan, baik, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Mungkin memang sifat kami yang berlawanan memacu pemikiran saya yang berbeda dari biasanya. Tapi itu sangat mempengaruhi sifat saya ini, yang pemalu, pendiam, anti-sosial, introvert, dan ga PD. 

Pertama-tama saya jadi lebih memerhatikan dia, bagaimana tingkah lakunya, bagaimana sikapnya terhadap orang lain, bagaimana dia berkomunikasi dengan orang lain yang bisa dibilang mudah untuk dirinya, jika dibandingkan dengan saya. Saya memang cupu! Tidak bisa memulai komunikasi dengan orang lain duluan. Bagaimana ke depannya jika saya begini terus. Tentu saja saya akan terhambat dalam melakukan pekerjaan. Huh..

Makin lama waktu berlalu, saya sudah tahu bagaimana dia melakukannya, bagaimana cara-cara  mencari topik pembicaraan yang tidak penting tapi bisa menghangatkan suasana dalam perbincangan. Tapi, tidak semudah itu mencari topik dan mengambil inisiatif. Dibutuhkan keberanian dan pikiran. Yang pastinya saya tidak bisa langsung begitu saja bisa. Diperlukan waktu untuk belajar dan mempraktekkannya.

Hal lain yang saya suka dari dirinya adalah pandangannya terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Dia tidak terlalu mementingkan/memusingkan pendapat orang lain terhadapnya, tidak seperti saya yang sangat mengkhawatirkannya. Dia juga polos terhadap sesuatu hal yang mengejutkan saya. Dan ternyata saya dibuat kagum olehnya.

Tapi ada satu hal yang saya dibuat kagum olehnya berkali-kali, yaitu kedekatannya kepada Tuhan, kesetiaannya pada Tuhan, cintanya kepada Tuhan, kasihnya kepada Tuhan, dan segalanya untuk Tuhan sudah saya rasakan. Dia sudah menjadi terang bagi sekitarnya, yang mungkin tidak semua. Tapi jelas-jelas saya merasakannya. 

Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang paling indah di dunia ini, Engkau telah mengaruniakan dia untuk bertemu dengan saya, dan karena itulah saya menjadi lebih dekat dan ingin mengenal-Mu lebih jauh. Mau merasakan kasih-Mu yang luar biasa dan membaginya terhadap sekitar saya agar bisa merasakannya juga.

Thank you for patience, kindness, holiness, and love that God have given me through you, my roommate. ^ ^