Sabtu, 14 April 2012

Suka banget...

Sejak pertama kali bertemu, saya merasa sesuatu yang baru. Yang sangat berbeda dari diri saya ini. Dia rajin, lucu, jayus mungkin bisa dibilang juga, sopan, baik, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Mungkin memang sifat kami yang berlawanan memacu pemikiran saya yang berbeda dari biasanya. Tapi itu sangat mempengaruhi sifat saya ini, yang pemalu, pendiam, anti-sosial, introvert, dan ga PD. 

Pertama-tama saya jadi lebih memerhatikan dia, bagaimana tingkah lakunya, bagaimana sikapnya terhadap orang lain, bagaimana dia berkomunikasi dengan orang lain yang bisa dibilang mudah untuk dirinya, jika dibandingkan dengan saya. Saya memang cupu! Tidak bisa memulai komunikasi dengan orang lain duluan. Bagaimana ke depannya jika saya begini terus. Tentu saja saya akan terhambat dalam melakukan pekerjaan. Huh..

Makin lama waktu berlalu, saya sudah tahu bagaimana dia melakukannya, bagaimana cara-cara  mencari topik pembicaraan yang tidak penting tapi bisa menghangatkan suasana dalam perbincangan. Tapi, tidak semudah itu mencari topik dan mengambil inisiatif. Dibutuhkan keberanian dan pikiran. Yang pastinya saya tidak bisa langsung begitu saja bisa. Diperlukan waktu untuk belajar dan mempraktekkannya.

Hal lain yang saya suka dari dirinya adalah pandangannya terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Dia tidak terlalu mementingkan/memusingkan pendapat orang lain terhadapnya, tidak seperti saya yang sangat mengkhawatirkannya. Dia juga polos terhadap sesuatu hal yang mengejutkan saya. Dan ternyata saya dibuat kagum olehnya.

Tapi ada satu hal yang saya dibuat kagum olehnya berkali-kali, yaitu kedekatannya kepada Tuhan, kesetiaannya pada Tuhan, cintanya kepada Tuhan, kasihnya kepada Tuhan, dan segalanya untuk Tuhan sudah saya rasakan. Dia sudah menjadi terang bagi sekitarnya, yang mungkin tidak semua. Tapi jelas-jelas saya merasakannya. 

Terima kasih Tuhan untuk anugerah-Mu yang paling indah di dunia ini, Engkau telah mengaruniakan dia untuk bertemu dengan saya, dan karena itulah saya menjadi lebih dekat dan ingin mengenal-Mu lebih jauh. Mau merasakan kasih-Mu yang luar biasa dan membaginya terhadap sekitar saya agar bisa merasakannya juga.

Thank you for patience, kindness, holiness, and love that God have given me through you, my roommate. ^ ^

Kamis, 12 April 2012

Stop or Continue

Ada saat di mana kita berada di keadaan mengambang, a.k.a. tidak tahu harus berada di mana. Sehingga kita tidak bisa menentukan keputusan kita ke depannya. Waktu bagaikan sesuatu yang terus berpacu, tapi perasaan itu tetap ada. Mencari hal lain untuk dipikirkan hanya sia-sia saja. Sudah tidak peduli lagi dengan waktu ke depannya dan mau lari dari kenyataan yang ada.

Itulah yang saya rasakan sekarang. Tidak peduli seberapa hebat atau sempurnanya di mata orang lain, saya tetap saya yang merupakan manusia biasa, rapuh, dan tidak mempunyai pendirian yang kuat. Itu mungkin adalah kelemahan saya. 

Sekarang saya memikirkan suatu hal yang egois lebih tepatnya. Saya mengikuti 2 jenis perlombaan olahraga di Olymphiart ini. Tapi saya merasa, atau mungkin memang kenyataannya saya tidak jago dalam kedua hal tersebut. Hal itu disebabkan oleh kemalasan saya yang tidak pernah ikut latihan. Salahkah saya? Jelas-jelas salah!!! Saya hanya mementingkan sesuatu yang merugikan saya sendiri. Dan pada akhirnya saya tidak bisa ikut serta langsung dalam kedua perlombaan itu a.k. jadi pemain cadangan. Padahal saya seharusnya bangga karena sudah ikut dalam tim tersebut dan berpartisipasi di dalamnya untuk memenangkan perlombaan ini, begitulah yang seharusnya dilihat orang lain kan? Tapi nyatanya saya adalah diri saya sendiri bukan orang lain. Yang merasakan itu semua adalah saya! Saya merasa tidak berguna dan saya berpikir apabila saya keluar dari kedua perlombaan itu maka tidak akan berpengaruh pada hasilnya bukan? Toh saya tidak ikut serta di dalamnya. Saya memikirkan sesuatu yang teramat parah. Saya berpikir bagaimana saya menarik diri saya dari semua perlombaan yang ada, dari semua kegiatan yang ada sama seperti seseorang yang harusnya menjadi panutan bagi saya.

Saya berencana keluar dari semua kegiatan yang saya punya, saya muak mungkin bisa di bilang begitu. Tapi kenapa? Saya merasa tidak bisa menempatkan diri saya di antara anggota-anggota komunitas saya. Atau memang hanya saya saja yang merasa seperti itu dan menjadikan diri saya sendiri seperti itu. Itu adalah hal yang salah, saya tahu benar. Tapi saya memikirkan hal itu!!!

Saya berpikir, bahwa kegiatan itu membuang waktu saya terutama untuk belajar. Mengacaukan konsentrasi saya pada satu hal yang saya pegang. Dan saya tidak memedulikan akibat yang lainnya lagi. Dan sekarang saya mengerti, kalau saya melepaskan itu semua, saya akan menjadi an-sos a.k.a. anti sosial. Padahal untuk masa depan, sosialisasi itu sangat dibutuhkan, dan itu merupakan salah satu kelemahan saya di balik semua kelemahan yang ada di dalam diri saya sendiri. 

Bagaimana caranya berkomunikasi yang benar? Berkomunikasi yang baik? Saya selalu bingung bila bertemu teman. Harus membicarakan apa? Sesuatu yang di luar jangkauan saya adalah ini. Saya harus belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dan benar. Belajar bersosialisasi dengan semua orang tidak terkecuali. Bagaimana untuk mencairkan suasana yang kaku dan tegang. Dan juga saya harus menanamkan kepada diri saya bahwa jangan terlalu mempedulikan pandangan orang lain. Untuk sebagai masukan/kritik boleh saja untuk memperbaiki sikap diri, tapi jangan sampai itu semua menghancurkan diri kamu sendiri!

Jadi, apakah saya mau berhenti atau lanjut???

Selasa, 10 April 2012

Galau

Mungkin ini memang cuma dimengerti oleh saya sendiri. Semenjak liburan kemarin saya makin lama makin malas untuk belajar. Ujian kian mendekat, saya seperti terancam untuk tidak naik tingkat bila begini terus menerus. Belum lagi TOEFL yang sangat mencekam bagi saya. Dua kali berturut-turut gagal. Padahal itu adalah syarat naik tingkat. 

Semua dikhawatirkan oleh saya, tapi yang tidak bisa dimengerti orang lain. Saya harus curhat kepada siapa? Saya harus melakukan apa? Jika saya curhat kepada orangtua saya, mereka pasti berkata bahwa saya pasti bisa, dsb. Tapi itu semua tidak cukup, perasaan saya masih tidak tenang. Namun, bila saya curhat kepada teman saya, mereka pasti berkata "Bohong.." atau "Jangan didengerin deh..". Seakan semua perkataan saya itu hanya rekaan belaka. 

Saya bukan orang yang banyak omong, lebih tepatnya pendiam. Dan bila saya berkata sesuatu itu tidak mungkin saya tidak kehendaki. Saya pasti berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, benar atau tidak, menyakitkan orang lain atau tidak. Tapi saya merasa apa ya? Kecewa? Jika saat saya berbicara yang sesungguhnya tapi mereka hanya menganggap itu main-main? 

Sudah putus asa saya menghadapi itu semua, dan pada akhirnya saya akan memutuskan untuk mencari pelarian, tidak ada yang lain. Saya tidak bisa belajar, saya tidak bisa konsentrasi belajar dan saya tidak mau tahu lagi. Keadaan di mana saya merasa tidak mau tahu lagi atau tidak mau peduli lagi adalah saat terburuk yang saya miliki. Saya benar-benar tidak peduli lagi apa yang terjadi di sekitar saya, tidak mau peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya bila saya melarikan diri dari masalah yang ada.

Saya kemudian tahu, jika saya terus menerus melakukan atau merasa seperti itu, hidup saya akan hancur. Tidak ada apa-apanya lagi. Tidak berguna sama sekali dan tidak ada masa depan yang cerah. Itu semua bagaikan mimpi buruk bagi saya di mana penyesalan selalu datang belakangan. Ahh... Saya harus bagaimana? Saya sudah mencoba menghindari itu semua, tapi sia-sia saja. Mustahil...

Akhirnya saya memutuskan untuk curhat di sini dan berfikir ke depan akan masa depan saya lalu melangkah maju meninggalkan kebiasaan buruk saya. Terima kasih Time After Time.. :D