Kamis, 20 Juni 2013

Menangis dan tertawa dalam satu hari yang sama

Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh saya, yaitu ujian hari terakhir. Ujian terakhir ini merupakan ujian praktek. Dan ujiannya pun dibagi menjadi hari pertama, kedua dan ketiga, dan saya mendapatkan hari kedua. Saya sudah belajar, menghafalkan, mengerti, mempelajarinya baik-baik, walaupun baru saya lakukan dari 2 hari sebelumnya. Untuk ujian ini, saya tidur lebih awal daripada biasanya walaupun tetap saja malam, dan pada malam itu saya kurang bisa tidur awalnya, tapi akhirnya pun saya tertidur nyenyak dan terbangun dengan alarm hp saya yang menunjukkan pukul 05.30. Saya kemudian bangun, saat teduh, dan mandi. Tidak lupa untuk sarapan terlebih dahulu dan memotong apel untuk bekal. Hehe

Di hari yang masih dingin, saya keluar berjalan menuju kampus. Sesampainya di sana, belum terlalu banyak orang yang datang. Saya dan teman-teman duduk dan menunggu dipanggilnya nama kita. Selama ini saya memang bukan orang yang dipanggil duluan, maka dari itu saya mendapatkan kloter 2. Sebelum dipanggil saya menyempatkan diri untuk makan apel bekal saya dan juga mi goreng special. Ternyata ujian ini menyerap banyak energi maka dari itu dibutuhkan juga asupan makan yang banyak. Haha (*atau mungkin memang saya yang gembul?)

Ternyata sebelum saya ujian, saya diisolasi lagi di perpustakaan, hufft... Ya sudah saya sempatkan saja diri saya untuk tidur sejenak sambil menghafal kembali ujian saya. Bla, bla, bla, bla, bla, zzz, zzz, zzz, zzz.......
Saya tegang saat dipanggil langsung masuk ke ruangan. Di sana ada 16 station dengan di dalamnya 4 station istirahat. Mungkin saya disuruh untuk menenangkan diri terlebih dahulu maka dari itu saya diberi station istirahat terlebih dahulu. 10 menit x16 = 160 menit alias 2 jam 40 menit. Tapi sangat tidak terasa, karena memang setiap 10 menit berganti station. Malahan tidak cukup menurut saya. Hwhwh

Pada awal-awal sebenarnya saya sudah melakukan kesalahan, wound care and dressing saya lupa akan sterile dan non-sterile step, tidak tau bagaimana hasilnya semoga dokter baik ini meluluskan saya. Berlanjut ke dermatological status, saya tenang-tenang saja di sana, sampai saya melihat gambar 3 macam kuku. Sejujurnya, saya tidak mempelajari bagian itu, baru tadi pagi saya berdiskusi dengan teman saya. Dan ternyata itu keluar. Saya agak panik karena saya lupa namanya apa, tapi saya mencoba menenangkan diri dan mengingat kembali. Puji Tuhan ternyata benar. Wah, Tuhan sudah membimbing saya selama ujian tersebut. Lalu berlanjut ke Differential counting, saya melakukan kesalahan, pertama, saya tidak menunjukan penampang preparat yang benar, kedua, saya salah memasukan perhitungan saya ke tabel tetapi untungnya saya bisa menjawab pertanyaan dokter tentang suatu preparat.

Setelah itu saya beristirahat lagi, kembali merenung, bagaimana station saya yang lewat tadi lulus atau tidak. Lanjut... Ke HT dan PE ENT, ya Puji Tuhan berjalan dengan baik dengan bantuan dokternya yang memasangkan headlamp karena tidak pas dengan kepala saya. Lalu, Wood splinting, dengan dokter baik lgsg memanggil saya Jessica, perlakukan seperti pasien sebenarnya ya. Saya melakukannya dengan baik, dibantu oleh dokternya untuk mengingat apa yang kurang yaitu recordnya. Untuk HT allergy, saya sebenarnya dibantu oleh pasiennya tetapi sayangnya saya tidak menyadarinya. Saya sudah menanyakan apa saja yang perlu ditanyakan, sesuai dengan modul pastinya, kemudian kata dokternya ada lagi yang mau ditambahkan, cuma kulit saja? Ya sudah saya mengulang lagi pertanyaan saya sebelumnya, dengan muka yang tidak tahu bagaimana yang sudah bingung apa lagi yang kurang, sang pasien membisikan sesuatu, saya mencoba menerka apa yang dikatakannya dengan diam-diam agar tidak ketauan si dokter. Tapi sayangnya saya tidak bisa menebaknya apa itu dan berakhir dengan tertawa. Hahaha. Makasi buat sang pasien yang sudah berusaha memberitahukan sesuatu yang kurang kepada saya walaupun saya tidak bisa mengartikannya. Saya mendapat kesenangan, penghiburan di saat itu dan saya merasa ujian ini saya benar-benar menikmatinya dengan cemas, khawatir, gelisah, tegang, menangis, tersenyum, dan tertawa.

Di istirahat yang ketiga ini saya sudah merasa haus sekali, maka dari itu saya mengambil minum yang sudah disediakan dan meminumnya langsung sampai habis, srrrllllppptt... Selanjutnya adalah HT anemia, saya merasa suka sekali dengan HTnya, saya bisa bertanya walaupun sesuai dengan modul, tapi saya mencoba untuk mengelaborasikannya, untuk menannyakan yang berbeda, dan di sisa waktu dokter pun bertanya sudah selesai atau ada yang mau ditambahkan, kalo tidak ada tinggal menunggu waktu bel, maka dari itu saya pun memilih untuk menunggu sampai bel karena sudah semua saya menanyakan kepada sang pasien. 

Saat suturing sebenarnya saya bingung dengan pertanyaannya, harus melakukan apa. Lalu dengan embel-embel perkenalan diri, tanya identitas pasien, inform consent lalu cuci tangan pakai gloves saya langsung saja suturing. Tapi saya sebenarnya salah, dan banyak yang kurang. Makasih buat dokter yang udah meluluskan saya, saya akan belajar suturing lebih dalam lagi. Hehe.. Hampir saja saya tidak lulus karena suturing. Huft. Yang paling menyenangkan adalah PE Orthopedi, dokternya asik, dan lucu. Kalo ada yang kurang pasti beliau melihat kepada saya, baru saya tambahkan dan beliau berkata, "Nah, gitu dong..", maka saya pun tertawa. Saya juga sempat berbicara sekilas dengan standard pasien bahwa tadi pagi ada yang tidak lulus 2 orang walaupun si standard pasien ini sendiri yang sudah memberi tau. Cckckc, (*memaklumi mereka, karena disaat tidak tau apa-apa atau saat tegang maka segalanya pun jadi buyar dan tidak melihat sekitar).

Istirahat yang terakhir, dan juga yang paling menegangkan karena 3 station selanjutnya adalah station yang paling penting dan takut tidak lulusnya paling tinggi. Pertama Basic Life Support, dokter yang cantik dan baik, karena arahannya saya pun bisa benar-benar mengerti bagaimana menangani pertolongan pertama dengan benar. Makasi, Dokter. :D Walaupun, tenaga saya sudah habis dimakan oleh CPR 5 cycles ini, tapi saya bersyukur sudah bisa melakukannya.

Saya tidak pernah mengira bahwa station ini akan mengancam ketidaklulusan saya akan ujian OSCE ini. Yang mengharuskan saya untuk remedial. Saya melakukannya dengan benar, dan bertahap. Tapi kenapa dokternya malah datang telatlah, malah main tabletlah, dan menyuruh saya mengulang kembali apa yang udah saya lakukan. Huft.. Saya panik karena saya ditanya hal yang sama tentang pemeriksaan liver dan spleen. "Jadi bagaimana permukaannya, apa yang kamu temukan, jangan berdasarkan teori tapi pasiennya gimana........, Wah, kalo gini kamu ga lulus ini". "Jangan dong, Dok, tolong." Saya sampai memelas agar diluluskan dan saat itu hati saya kacau, ingin menangis rasanya. Dengan perasaan yang sudah menjadi-jadi saya keluar karena sudah bel 2 x dan langsung masuk ke station selanjutnya.

Di station terakhir ini, masih ada teman saya yang ada di dalam, tpi saya langsung mulai begitu dokternya memberitahu saya untuk mulai. Saya kesusahan dalam memakai gown, mask, gloves untuk corpse management.. Saya mulai panik tidak bisa memegang alat. Dan sampai sudah bel pun saya belum selesai dan masih memakai peralatan dengan lengkap. Tapi ternyata dokternya baik dan bertanya kepada saya yang masih belum karena memang kebetulan ini adalah station terakhir dan tidak ada yang datang lagi.

Tapi saya teringat lagi akan station sebelumnya di mana saya dibilang tidak lulus, dan tanpa saya sadari air mata sudah memenuhi mata saya. Saya keluar berusaha untuk ceria, walaupun hidung terlihat merah. Saya cuma bersyukur buat Tuhan yang udah membimbing saya, menyertai saya saat ujian dan menguatkan saya. Makasi buat hasil yang terbaik yang udah saya dapatkan 2 hari kemudiannya. Tuhan Mahadasyat! :D

Selasa, 21 Mei 2013

Long lasting problem in my life

It's not normal!!!
Saya selalu percaya, bahwa saya bisa melakukannya, saya mampu melakukannya dengan baik, dengan tepat waktu, dengan semampu yang saya bisa dan saya bisa mencapai apa yang saya inginkan. Saya percaya, saya mampu. Tapi ada satu hal di dalam diri saya membuat semuanya mustahil. Saya bisa meninggalkan semuanya tanpa memikirkan atau khawtir sedikitpun, saya bisa melakukan suatu kesenangan di dalam dunia ini, meninggalkan jalan yang benar. 

Saya selalu berpikir, bagaimana nanti saya ke depannya, mau diapakan hidup saya yang sudah berantakan ini. Semua ini salah saya, saya yang melakukan semuanya itu dan saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan. Saya tidak berhak untuk menghakimi orang lain bahkan Tuhan. Saya tidak berhak marah untuk segala apa yang saya dapat, apapun hasilnya. Saya hanya bisa merenung dalam kesedihan, keterpurukan di ruangan yang seperti tidak ada satu nyawapun di situ.

Berkali-kali saya berjanji pada Tuhan bahwa saya akan meninggalkan kedagingan dalam diri saya. "Tuhan, kalo saya dapat nilai bagus di dalam ujian ini, saya berjanji akan meninggalkan kedagingan saya"; "Tuhan, kalo saya lolos dalam lomba ini saya mau mengikuti jalan-Mu"; "Tuhan,,,,,". Semuanya bagi saya itu sekarang hanya janji dan omongan kosong yang tidak pernah tercapai. Saya hanya bertahan paling banter 1-2 minggu, setelah itu saya kumat lagi.

Saya harus melakukan apa, Tuhan? Saya tidak tau harus berbuat bagaimana? Seberapa kotor diri saya yang telah melakukan dosa yang amat berat di mata-Mu, saya tidak tau lagi. Dan dalam diri saya masih banyak kedagingan-kedagingan lain yang selalu menghampiri saya. Hanya Engkau yang memberi saya hidup di dunia, dan kepada Engkau saja harusnya saya sembahkan seluruh hidup dan jiwa saya. Saya harus tetapkan itu pada hidup saya sampai selama-lamanya.